Kamis, 02 Februari 2012

MAHALNYA SENYUM DAN SAPA

Kita tak berada di dunianya keseraman
yang hanya ada pekik histeri mencekam
bersamaan berhentinya aliran darah
kita tak berdiri di dunianya kecemasan
yang hanya ada harap-harap kebebasan
berharap tegur sapa manis dari mulutmu

Jiwa dan hati kita dalam satu periuk nampan
tak samanya engkau di tengah kami tepinya
kami bersama-sama mengumbar kearifan senyum
sedang kamu dan kalian menyandera sudut bibir
berharap ada kewibawaan mencengkeramaimu
lantas ada ketakutan abadi singgah di hati kami

Ataukah engkau merasa kulitmu lebih putih dari kami
hingga melepas senyum pun bak kehilangan harga diri
asal kamu tahu periuk ini dibuat dari tanah liat kebunku
saat naga-nagamu kau biarkan liar membakar semaknya
bahkan menghanguskan seruling dan kecapi kayu
pengiring tarian anak-anak pedesaan kaki bukit gersang
dan pedoman langkah-langkahku membumikan senyuman

Aku dan kawanku menjunjung tinggi warisan keramahan
tutur lembut dalam peti harta karun budi pekerti
tak pernah malu-malu menunduk melesatkan senyum
laksana tuanya batang padi makin menguning bulirnya berisi
yang melebarkan gelegak dan tawa kelegaan para petani

Ada ketamakanmu sepintas melintas memberi tanda
tak ditariknya senyumanmu pada sudut terdekat 
karena di bibir mulutmu terwarnai oleh keterpaksaan

Beruntung kamu, Tuhan lengkapi wajahmu dengan mulut
bukan hanya untuk mengunyah sajian periuk tanah liatku
apalagi minum getah merah yang menetes dari bulir padi
tersenyumlah dalam tutur kelembutan setiap waktu
selagi Dia belum mengambil senyuman itu darimu

                            29 Januari 2012


Senin, 05 Desember 2011

SENJA PEREMPATAN NADI SURABAYA

Pada pelana punggung sepeda motor tuanya
lelaki paruh baya menyusuri senja
pada jantung kota detak nadinya melemah
bersama redupnya hingar bingar berbagai ulah
perhelatan kolosal perjalanan naskah kehidupan
di pentas panggung terbesar karya tangan Tuhan

Kanan kirinya gedung-gedung sedang mengalami obesitas
gedung yang tak pernah mau memangkas runcing kuku jari
bahkan sengaja agar tajamnya mampu mencabik birunya langit
bersamaan waktunya kelembutan tangan renta kota
mencoba menimang dan menidurkan tiga juta rasa
yang belum terlampiaskan dan tak sempat terejakulasi hari itu

Sebab malam akan segera menyergap antagonisnya kota
lalu kekacauan terendapkan oleh kemanjaan senja
meski jalan pendulum arlojinya berbalik arah ke kiri

Tatapan mata lelaki paruh baya tersandera
oleh hijau kuning dan merahnya pengatur pacuan hidup
tepat pada sasaran senyum si penarik becak
tangannya menggelincirkan upah hasil menggadaikan nafas
dengan harapan impas membeli obat luka pada kakinya

Di bawah meranggasnya ranting peneduh perempatan persimpangan
anak perempuan kecil mengulang-ulang hitungan keping logam
jerih susah melemahkan ketamakan hati penikmat kemolekan kota
dari bibir menghitamnya terdengar nyanyian tak jelas nadanya
sesekali rapuh ranting kering terhempas hembusan angin
terjatuh menyentuh kepala menempel pada rambut lusuhnya
tapi sayang harapannya untuk bisa mendengar gemerincing
kepingan uang logam hasil hitungnya tak senyaring
bersatunya tutup-tutup botol minuman soda pada bilah kayu
yang setia mengiringi tidak merdunya setiap alunan nada

Di sudut jalan masih di perempatan persimpangan yang sama
anak lelaki memeluk erat koran di antara lutut dan harapannya
di bawah kanopi sebuah toko roti yang belum pernah ia rasai
tangan kirinya erat pula menggenggam lembar-lembar uang kumal
habis waktu datang dan perginya hujan berakhir gerimis
imbalan warta dan berita tentang permainan nasib kota
yang telah berhasil dijualnya senja itu pula

Tetap di perempatan persimpangan tengah kota
lelaki paruh baya menyusuri senja
bersama ratusan gambar gaya hidup manusia
dari si melarat si sedang sampai si kaya maha raya
dalam ereksi keinginan berbeda harga jangkauan
terukur oleh tiga warna kuning merah dan hijau
untuk segera melesatkan roda ke tujuannya

perempatan persimpangan berikut tetap berlanjut
lelaki paruh baya menyusuri senja bertemu tiga warna yang sama
warna penanda pacu kendali kencangnya kehidupan
tetapi bayangan penarik becak perempuan kecil usia belia
tubuh kumal anak lelaki yang memeluk koran dan kota
melengkapi tiga warna senja persimpangan kehidupan
menjadi hijau kuning merah dan hitam
sepekat hitamnya mendung senja itu
sehitam asap cerobong knalpot sepeda motor tuanya

Surabaya, 24 November 2011

Senin, 21 November 2011

AKU INGIN BERDOA


Tuhan pagi ini aku ingin berdoa bersama sembilanbelas muridku
Di kelas meski tanpa hening sunyi karena hati mereka enggan
Melupakan nikmatnya sarapan pagi tadi bersama pembantunya

Tuhan pagi ini aku berdoa bersama enambelas muridku
Di kelas meski tanpa ada kesenyapan dini hari
Karena tiga muridku tak masuk kelas “sakit” kata ibunya
Meski sesungguhnya keyakinanku berkata mereka masih lelap tidur
Karena semalam hingga jelang fajar terkena tipuan permainan
Dunia tak sebenarnya maha cipta teknologi yang makin men”dewa”

Tuhan pagi ini aku berdoa bersama sepuluh muridku
Di kelas tetap dalam kegaduhan yang membentuk pola kebiasaan
Karena sembilan muridku sengaja tak menampakkan kesatriaannya
Hanya untuk memamerkan solidaritas lepas kendali

Tuhan pagi ini aku masih berdoa bersama tiga muridku
Di kelas masih dalam keriuhan gaya belajar hidup mereka
Bak lebah rimba menjaga sarang madunya
Karena delapan muridku sakit yang delapan tertular wabahnya

Tuhan pagi ini aku berdoa sendiri tanpa satu pun muridku
Kali ini dengan keramaian hiruk pikuk tanda tanya hatiku
dimana kemana sedang apa dan bagaimana mereka

Tuhan, aku ingin berdoa besok pagi di kelasku
Dalam kesenyapan hening sunyi tanpa kegaduhan pikiran
Tanpa keriuhan suara dengung lebah penyengat kepala
Bersama sembilan belas muridku

Mudah-mudahan serum imunisasi saat ia bayi
Mengebalkan dirinya dari pengaruh kerapuhan
Pikiran jiwa kepribadian karakter dan ketaatannya padaMu

Dan amin dalam doaku tak sia-sia
                  
                             Surabaya, 15 November 2011