Selasa, 12 Januari 2010

PIAGAM


-->
PIAGAM


OLEH : Bb. SUMBOGO SISWOWIYONO
Salamun merebahkan tubuhya di kursi bambu panjang buatannya sendiri setelah menempuh perjalanan sejauh 12 km dari kota kabupaten ke rumahnya di kampung Rejowinangun. Keringat yang meleleh dari kening membasahi muka dibiarkannya tak diseka. Tangannya meraih koran terbitan dua bulan lalu yang ada di bawah meja kayu lapuk dan mengibaskannya di muka dada sekedar menghilangkan kegerahan siang hari itu. Kopi yang ditinggalkannya di meja sebelum ia berangkat ke kantor kabupaten diminumnya meskipun dingin. Asap mengepul dari mulutnya yang menghitam. Asapnya masuk rumah menyusur celah dinding kamar anyaman bambu dimana istrinya sedang mencoba menidurkan Yanti anaknya yang berusia dua tahun. Yanti terbatuk-batuk karena asap rokok bapaknya mengusik kedamaiannya begitu pula dengan Marni istrinya, perempuan yang tak pernah mengenal bersolek itu merasa asap rokok suaminya itu menjadikan pekerjaan menidurkan anaknya sia-sia. Ia bangun dengan hati-hati dan menghampiri Salamun yang tengah asyik memutar-mutar batang rokok di antara jari-jari tangan kirinya.
“Pak, pak! Berapa kali sih aku harus mengingatkanmu? Kalau merokok jangan di dekat kamar anaknya! Lihat batuk anakmu!”
Marni berlalu kembali masuk kamar anaknya, seketika karena tangisan dan rintihan Yanti memanggil. “Mak!”
“Iya,iya!”
Salamun segera saja menjentikkan rokoknya setelah isapan yang terakhir. Tak ada keinginan untuk memarahi Marni meskipun istrinya itu telah mengusik kenyamanannya. Ia sadar betul bahaya asap rokok terhadap anaknya yang masih kecil itu.
Keheningan suasana pedesaan semakin tergambarkan dengan beralihnya matahari yang semakin condong ke barat. Suara cicit kelelawar yang keluar satu per satu lewat lubang usuk batang bambu rumah Salamun. Lelaki paruh baya yang menginjak usia empat puluh tahun itu selesai mandi. Keharuman sabun batangan yang dipakainya memenuhi ruangan. Aromanya singgah di setiap lorong sudut rumah pemberian mertuanya. Kesetiaan pada kursi bambu panjang di depan rumah menjadikannya betah berlama-lama duduk di situ, kadang juga rebahan jika kantuk berat menghampiri bersama semilirnya angin yang membuainya.
“Kenapa tadi pagi kuturuti keinginanku untuk melihat pengumuman penerimaan CPNS di kabupaten? Sial, apes! Lagi-lagi namaku tak tertulis di kertas itu” gerutunya.
Salamun telah mencoba melamar menjadi PNS sebanyak 9 kali semenjak lulus S1 jurusan ilmu sejarah dari sebuah perguruan tinggi swasta di Jogja. Untuk lamaran kali ini adalah kesempatan yang terakhir baginya karena aturan batas usia, Jika lamarannya gagal hilanglah harapan untuk menjadi pegawai negeri. Harapan yang sering diperebutkan oleh berjuta-juta lulusan IKIP pencari kerja se-Indonesia.
Selama ini, Salamun menjadi guru di Sekolah Menengah Pertama swasta milik sebuah yayasan di Argosari sebuah desa terpencil yang jauh dari kota kecamatan.. Meski honornya dibilang tak mencukupi tapi pekerjaan itu telah ditekuninya selama sepuluh tahun lebih.
Sejak pertama mengajar di sekolah itu Salamun selalu datang paling pagi bahkan lebih pagi dari penjaga sekolah, terus-menerus setiap pagi. Itu dilakukannya karena Salamun melihat banyak guru yang datang seenaknya. Ada yang datang pas jam dimulainya pelajaran ada pula yang nekat melebihi jam tujuh meski semua guru tahu kapan bel tanda dimulainya pelajaran berbunyi. Salamun punya keinginan memotivasi teman-temannya dengan memberikan contoh untuk melakukan pekerjaannya dengan benar dalam semua hal terlebih kedisiplinan.
Tapi apa yang dilakukannya tidak semudah yang dibayangkan Salamun. Tantangan muncul justru dari beberapa kawan sesama guru yang merasa kenyamanannya terusik sejak kedatangannya. Beberapa kawannya itu tetap datang mengajar dengan seenaknya. Masuk kelas untuk mengajar pun tanpa membawa perangkat mengajar padahal dalam perangkat itulah tujuan dan materi yang akan disampaikan ke siswa ditulis. Salamun menyayangkan itu sebab beberapa temannya itu adalah guru pegawai negeri yang diperbantukan di sekolah swasta. Guru yang seharusnya lebih bertanggung jawab terhadap masa depan para muridnya karena ia dibayar dari uang rakyat.
Pikiran Salamun menerawang kembali ke waktu saat ia berdesak-desakan dengan beratus-ratus pelamar hanya untuk memenuhi keinginannya menjadi pegawai negeri. Dan itu dilakukannya setiap tahun selama ada pengumuman formasi kepegawaian.
”Aku harus memberi contoh dan bisa mengubah kebiasaan yang sudah ada selama ini” gumam Salamun saat hari senin pagi ia baru saja tiba di sekolah dan meletakkan tas kerja di atas meja.
“Mana mungkin Pak Mun, mereka sudah melakukan itu bertahun-tahun sebelum Bapak datang ke sini”, kata Parjo tukang kebun sekolah “Dan saya juga jadi tidak tergesa-gesa merebus air dan menyiapkan minum bagi mereka”
“Rupanya pikiranmu tercemar juga, Jo. Akankah kamu juga mengorbankan anak-anak di sini, membiarkan mereka sekolah tetapi tetap bodoh?” Kata Salamun sambil mengangkat tas kerjanya yang tergeletak di meja karena kemoceng si Parjo menyapu debu-debu yang memenuhinya.
“Bukan begitu Pak Mun. Saya sebenarnya juga tidak rela jika Siti keponakan saya itu sekolah tapi tak nampak kemajuannya karena gurunya mengajar sambil membaca koran saat siswa mengerjakan tugasnya. Eh..maaf Pak Mun, saya jadi menyinggung seseorang” Parjo nampak agak ketakutan mengatakan itu.
Ada penyesalan di wajah Parjo setelah tanpa sengaja ia membuka aib seseorang. Dan ia segera berlalu sesaat setelah Pak Sutedjo kapala sekolah memasuki ruang guru.
Sutedjo, kepala sekolah yang telah memimpin sekolah itu selama15 tahun adalah sosok manusia pendiam yang kewibawaannya makin meluntur seiring uzurnya umur.
“Selamat pagi Pak Tedjo! Bagaimana sakitnya? Sudah membaikkah?” tanya Salamun kepada pimpinannya itu.
Salamun sebenarnya tidak sampai hati melihat keadaan pak Tedjo. Akhir-akhir ini pak Tedjo sakit-sakitan. Sakit menahun asma yang dideritanya sering kambuh. Kalau sudah demikian pak Tedjo tidak masuk dan jalannya kegiatan sekolah dilimpahkan kepada bu Sulastri wakilnya.
“Selamat pagi” jawabnya dengan nada pelan menahan sakit. ”Sudah mendingan Pak Mun, meski harus tetap rutin minum obat, sampai bosan rasanya”, keluh pak Tedja “Saya dengar Pak Salamun baru kembali dari kabupaten?” tanyanya.
“Benar, Pak. Tapi hasil akhirnya saya tetap tidak lulus seleksi dan mungkin masih tetap mengajar di sekolah ini Pak Tedjo”.
Pak Tedjo terbatuk-batuk, tangan kirinya memegang dadanya sebelah kanan. Tampak mencoba menahan rasa sakit di dadanya. Ia sebelumnya adalah seorang perokok berat yang dalam satu hari bisa menghabiskan 4 bungkus rokok kretek. Dan yang ia sukai adalah rokok kretek buatan dari Kudus.
“Baguslah kalau begitu. Dan sekolah ini tidak perlu kehilangan seorang guru yang menurutku dapat menjadi contoh bagi mereka yang pekerjaannya makan gaji buta”, kata Pak Tedjo dengan agak geram.
Entah kegeraman apa yang sedang dirasakan pak Tedjo, Salamun sendiri tidak tahu, dan tak ada keinginan untuk mencoba mengetahuinya. Kecuali beberapa waktu yang lalu Salamun mendengar dengan tidak sengaja percakapan antara Pardjo dan Sarman yang juga tukang kebun. Bahwa dua hari yang lalu Pak Tedjo ditegur kepala dinas sehubungan dengan banyaknya pengaduan dari orangtua siswa yang memprotes beberapa guru karena sering meninggalkan jam pelajaran sekolah hanya untuk membeli bedak atau alasan lain yang memang kurang bisa dipertanggungjawabkan.
“Apakah yang Pak Tedjo maksud . . . .?” Salamun tak berani melanjutkan kalimatnya karena ia tidak ingin melibatkan dirinya dalam permasalahan Pak Tedjo.
“Pak Mun. Apakah Pak Mun bersedia menolong saya? Ini sangat penting demi kelangsungan sekolah kita. Agar murid-murid di sini dapat belajar yang sesungguhnya, Pak Mun”.
“Saya akan bantu selama saya mampu Pak. “
Salamun heran. Tak biasanya pimpinannya itu agak mengiba minta bantuan. Dan entah mengapa Salamun menganggukkan kepala tanda setuju, padahal Salamun belum mengerti apa yang diinginkan pak Sutedjo.
Sutedjo kemudian menjelaskan maksudnya kepada Salamun. Ia merasa sudah waktunya untuk istirahat dari segala aktifitas urusan sekolahan, guru yang korup waktu, dan tekanan dari pihak yayasan. Disamping penyakit asma yang semakin menggerogoti badan kerempengnya. Sutedjo mempercayai Salamun karena di matanya hanya dialah satu-satunya harapan agar sekolah yang telah dipimpinnya selama limabelas tahun itu dapat berlanjut mengambil peran mendidik anak bangsa.
“Tapi, tapi mengapa saya Pak? Bukankah ada Bu Lastri?”
Salamun keheranan dengan keputusan yang diambil kepala sekolahnya itu. Dan dia menjadi tidak enak hati dengan bu Lastri. Dia merasa takut dituduh merebut kesempatan temannya yang sejak semula sudah berambisi menggantikan pak Sutedjo menjadi kepala sekolah.
“Tidak Pak Mun. Tidak. Beliau ini meski perempuan juga sama saja. Anda tahu sendiri bagaimana keadaan disini. Keadaan yang semakin lama tidak menjadikan siswa merasa nyaman belajar tapi justru keadaan yang semakin bertolak belakang dengan idealisme pendirian sekolah ini sejak semula. Bahkan tempat ini hanya dipakai sebagai sarana bersembunyi para pemakan gaji buta berkedok pengabdian. Saya tidak rela Pak Mun. Karena itu saya berharap anda bersedia menggantikan saya memimpin sekolah ini.” Pinta pak Sutedjo sambil memegang erat lengan Salamun.
Bersamaan itu pula dentang lonceng besi bekas velg truk tua berbunyi menandai dimulainya pelajaran karena waktu sudah menunjukkan pukul tujuh.
Keriuhan siswa mencoba mendahului berjalannya waktu. Gegapnya memenuhi tiap sudut lorong antar kelas. Rasanya pada saat itu waktu seolah berlari dalam ketergesa-gesaan. Dan anak-anak dengan keluguannya mencoba sesegera mungkin lebih dulu berada dalam kelas sebelum gurunya. Masih ada niat baik dan rasa tanggung jawab dalam kepolosan tiap anak di tempat itu. Hati dan pikiran mereka belum ternodai oleh kesemuan hasrat dan kepalsuan keinginan.
Inilah yang membanggakan hati Salamun sekaligus pengikat hati untuk tidak meninggalkan mereka begitu saja. Hati dan perasaan Salamun tak tega untuk menodai ketulusan dan kepolosan itu.
“Maaf, Pak. Saya tinggalkan dulu. Saya mau ngajar,” kata Salamun sambil berlalu dan belum sempat menjawab permintaan pak Sutedjo.
--------------------------------------------
Salamun merebahkan badannya masih di tempat yang menurutnya paling nyaman di dunia, kursi bambu panjang di teras depan rumahnya. Kali ini tanpa kepulan asap rokok karena ia tak ingin , Marni ,istrinya marah dan menggunakan alasan penyebab batuk anaknya karena asap rokok yang dihisapnya. Tatapan matanya menelusuri langit-langit rumahnya yang sudah tampak kotor makin menebal debunya dan mulai melapuk termakan usia. Beberapa sarang laba-laba melekat erat pada dua bambu bersebelahan, semakin melengkapi tidak terawatnya rumah peninggalan sang mertua.
Kembali permintaan pak Tedjo untuk menggantikannya sebagai kepala sekolah seolah terngiang di telinganya. Diterima berarti Salamun harus berhadapan dengan guru-guru yang dedikasinya “sak karepe dhewe”, ditolak berarti Salamun harus melihat orang tua dengan penyakit dan wibawanya sedang dirongrong oleh anak buahnya sendiri.
Salamun bangun dari rebahannya dan beranjak menghampiri suara tangisan dari dalam kamar sesaat setelah tangisan anaknya itu menyadarkan dirinya dari permainan angan-angan.
Diangkatnya anak kesayangan itu dari tempat tidur dan dengan pelan berhati-hati diletakkan kepala mungil itu dipundaknya, dengan harapan ia mau tertidur lagi. Istrinya belum kembali dari belanja di warung si Jhoni. Barangkali saja istrinya saat ini sedang beradu argumentasi dengan Jhoni, agar diberi hutangan beras tiga liter dan sabun colek dua bungkus. Salamun kembali tersadar bahwa sudah dua minggu ini ia tidak memberi jatah uang kepada istrinya untuk berbelanja. “Dari mana Marni dapat uang?” gumam Salamun, “Apakah Marni ngutang lagi untuk keperluan hidup sampai datang tanggal gajian nanti?”
Diam-diam Salamun memuji kesigapan Marni. Wanita yang sudah lima tahun dinikahinya itu mampu menentukan sikap dan mengambil tindakan yang tepat demi kelangsungan hidup keluarga. Ia tak pernah menuntut berlebihan dari sang suami. Bahkan Marni lebih banyak bersikap diam tatkala suaminya mengeluh, meminta maaf, tak dapat memberikan uang belanja.
Salamun mensyukuri anugerah Tuhan yang telah memberikan wanita “nrimo ing pandum” sebagai pendamping hidupnya. Salamun mencoba membaringkan anaknya dari gendongan ke tempat tidur. Perlahan dan hati-hati sekali. Ia tak ingin anaknya terbangun lagi dan merenggek minta dibuatkan susu. Dan usahanya berhasil. Anaknya telah dengan pulasnya tidur.
Salamun kembali mencoba menelusuri kehidupannya. Kali ini tidak dari kursi bambu tapi dari kursi rotan di ruang tamu yang ditata rapi oleh Marni. Di samping kanannya bufet kaca yang di tiap raknya tersusun rapi pula berbagai pajangan mulai dari piring, gelas, boneka, dan barang lain yang mungkin saja tak ada manfaatnya. Hanya sekedar untuk memenuhi bufet kaca. Tampak pula di rak paling atas berjajar berbagai piala, tropy, dan piagam-piagam penghargaan atas namanya. Penghargaan atas berbagai prestasinya selama menjadi guru. Mulai dari penghargaan juara menulis esai pendidikan sampai penghargaaan guru teladan tingkat kabupaten berhasil ia capai.
Mata Salamun menatap tajam piala, tropi, dan kumpulan piagam penghargaan itu. Ada kebanggaan dalam dirinya dari berbagai penghargaan yang pernah ia dapatkan. Tapi kebanggan itu berlalu dari realitas kahidupannya. Salamun merasakan ketakutan yang luar biasa saat menatap piala, tropi, dan berbagai kertas penghargaannya. Benda-benda itu tak mampu menuntun kehidupannya kepada sekedar keinginan menjadi pegawai negeri sipil yang konon gajinya menjanjikan kesejahteraan. Benda-benda itu seolah telah menggorok leher Salamun dan anak isterinya hingga mati dari hakikat hidup. Benda-benda yang pernah dibanggakannya itu kini dianggapnya sampah yang tak layak lagi di simpan di bufet sebagai penghias ruang tamu. Namun, lebih cocok jika dibawa ke loak untuk dijual kiloan dan dipakai sebagai kertas pembungkus.
Salamun beranjak menghampiri bufet itu, membuka, dan meraih kertas-kertas piagamnya mengamati sejenak dan berniat meremasnya, jika saja istrinya tidak datang dan mengigatkannya.
“Pak. Bukankah kertas piagam itu bisa kita simpan sebagai kenang-kenangan? Dan barangkali pula bisa kita pakai sebagai bahan cerita pengalaman hidup kepada anak cucu kita? Sayang khan Pak kalau dibuang?” Demikian Marni mencoba menghibur suaminya yang tampak lesu tak bersemangat karena kekecewaannya dan karena hilangnya kesempatan untuk menjadi PNS, seperti yang diharapkan orang tuanya dulu sebelum meninggal.
Salamun hanya diam terpaku, ada pancaran penyesalan di wajahnya yang begitu mendalam. Kenapa ia menolak saat bapaknya dulu bermaksud menjual satu hektar sawahnya untuk memuluskannya menjadi PNS saat seseorang menawarinya melalui jalan belakang. Salamun menyumpahi dirinya sendiri, “Aku memang bodoh!”
“Sudahlah, Pak! Tidak jadi pegawai negeri pun kita bisa hidup, bisa mencukupi kebutuhan kita, bahkan kita bisa membantu orang lain”, Marni berusaha menghibur dan membesarkan hati suaminya. “Bukankah tenaga dan pikiran Bapak sangat dibutuhkan oleh Pak Tedjo? Tenaga dan pikiran untuk mengubah sikap dan perilaku para guru di sekolahan bapak saat ini? Agar anak-anak di kecamatan ini khususnya, benar-benar terbangun kepandaiannya, lebih-lebih terbentuk pribadi dan budi pekerti luhurnya…supaya kelak anak-anak itu tidak berwatak “sak geleme dhewe” seperti pendahulunya,” kata Marni, wanita yang setia mendampingi hidup Salamun itu.
Permintaan pak Tedjo terhadap dirinya kembali terngiang menghampiri pikirannya. Permintaan yang tak mudah untuk di-iyakan oleh Salamun, karena beban tanggung jawabnya begitu berat, harus mengubah banyak hal yang sudah terlanjur menancap kuat dan berakar sebagai kebiasaan.
Salamun menghampiri Marni, yang tengah duduk sambil menghitung pengeluaran belanjanya kali ini. Ia merebahkan begitu saja kelesuan tubuhnya di samping istrinya itu. “Bu, maafkan aku ya! Sampai saat ini aku belum bisa membahagiakan kamu dan Yanti anak kita,” keluh Salamun. “Aku terlalu idealis dengan angan-anganku, hingga realita kehidupan terlupakan dan berakibat pada kurang perhatianku kepada istri dan anakku.”
Tangan lembut Marni memegang pundak suami tercintanya. “Sudahlah Pak, jangan menyesali hal itu. Kamu adalah suami yang baik karena masih mempunyai angan-angan hidup dan idealisme. Setidaknya Bapak mempunyai satu hal yang sudah diperjuangkan meskipun akhirnya tidak seperti yang kita harapkan bersama.”
Kata-kata Marni yang tulus dirasakan sebagai siraman air yang sangat dingin, yang mampu meluluh-lantakkan keharuan hati seorang yang begitu tegar dan teguh selama ini. Salamun menangis meski airmatanya masih kuat ditahannya di kelopak mata. Hatinya bagai terketuk-ketuk tangan lembut penuh kasih oleh perempuan, istrinya sendiri.
“Pertimbangkan dengan baik permintaan pak Tedjo itu, Pak! Bukan masalah berapa besar gaji yang akan Bapak terima nanti, tapi masalah tanggung jawab sebagai seorang guru sekaligus pendidik di sekolah itu.”
-------------------------------------------------------------------
Pagi itu seperti biasanya, Salamun datang lebih awal dari semua orang di sekolah. Suasana masih tampak sepi. Anak-anak sekolah belum satu pun yang tampak hadir. Sesekali melintas di depan sekolah, beberapa tetangganya yang hendak berangkat ke sawah memanggil dan menyapanya. “Pagi, Mas Guru!” sapa mereka setengah berteriak dari kejauhan. “Mas Guru, jangan lupa nanti sore main catur lagi ya!”teriak Pak Cokro petani jagung, yang tiap sore menemaninya bermain catur. “Titip Udin, ya Pak!”, teriak Dayat yang baru punya anak satu, Udin namanya.
Suasana kembali senyap seiring berlalunya sapaan-sapaan para petani itu. Salamun menyandarkan bahunya pada pilar tiang penyangga teras kelas. Keluguan dan kesederhanaan kehidupan pedesaan selama kurun waktu sepuluh tahun terakhir ini, telah menempa pribadi Salamun menjadi sosok yang memahami benar makna kesederhanaan. Bukan kesederhanaan yang menyerah pasrah pada keadaan, tetapi kesederhanaan yang tetap mengedepankan keinginan untuk maju dan tidak ketinggalan oleh laju perkembangan dunia. Terbukti pada keinginan penduduk yang 90 % adalah petani tulen, untuk selalu mengikuti perkembangan teknologi pertanian meskipun hanya melalui siaran radio atau televisi tetangga. Inilah salah satu yang menyebabkan Salamun merasa berat untuk menanggalkan statusnya sebagai guru di desa Argosari kemudian meninggalkan mereka begitu saja. Keramahan,keluguan, kesederhanaan, kejujuran, kepedulian, dan rasa saling menghargai, telah membuat Salamun menjadi bagian dari kehidupan desa ini. Ia merasa punya tanggung jawab untuk memajukan desa ini, terutama pendidikan bagi anak-anak usia sekolah. Ia tak rela jika kepolosan dan antusiasme mereka teracuni oleh kebohongan dan kepalsuan gurunya, lebih-lebih guru yang telah diangkat menjadi pegawai negeri tetapi melalui jalur “titipan” dengan sejumlah uang pengganti jasa. “Mau jadi apa…anak-anak ini?” gumam Salamun.
“S-e-l-a-m-a-t p-a-g-i…Pak Sal..! sapaan hangat bersamaan dari beberapa siswa yang sudah mulai datang mengagetkannya sekaligus membuyarkan lamunannya.
“Eh…selamat pagi, Nak!”, jawabnya dengan ramah.
“Kok, kalian datang pagi sekali?”, tanya Salamun karena tak biasanya murid-muridnya datang sepagi itu.
“Khan, Bapak sendiri yang berpesan kepada kami untuk datang lebih awal, agar kami lebih siap belajar.” jawab Mardi, ketua kelas 8A.
“Bagus Nak! Dengan datang lebih awal berarti kalian bisa belajar lagi materi yang kemarin.” Puji Salamun. “Dan ini akan menjadi kebiasaan bagi kalian kelak jika sudah menjadi orang dewasa. Karena segala sesuatu itu akan lebih baik jika kita persiapkan seawal mungkin dan hasilnya pasti akan lebih memuaskan.”
Anak-anak menganggukkan kepalanya tanda memahami apa yang baru saja disampaikan gurunya itu. Mereka sangat menghormati Salamun sebagai seorang guru, karena selama ini mereka beranggapan bahwa Pak Salamun sangat mengasihi dan memperhatikan mereka.
Satu per satu mulai anak-anak mulai berdatangan, menyapa Salamun dan mengulurkan tangan-tangan mungilnya untuk menjabat tangan guru yang dicintainya itu, kemudian memasuki kelas mereka masing-masing. Tawa kelakar mereka menghangatkan suasana pagi hari itu. Keriuhannya menghidupkan kesyunyian desa Argosari.
Salamun mengamati Mamad, siswa kelas 7C, yang tergopoh-gopoh berlarian menyambut kedatangan Pak Tedjo di gerbang sekolah. Seperti sudah menjadi kebiasaan sejak dulu, guru yang datang naik sepeda pasti akan turun di gerbang sekolah, lalu menuntun sepedanya hingga bawah pohon trembesi depan kantor guru, karena sekolah itu belum mempunyai tempat untuk memarkir sepeda. Nah, pada saat itulah para siswa seolah berlomba saling berebut untuk membantu menuntun sepeda hingga tempat di mana gurunya biasa meletakkan sepeda itu. Dan kebiasaan seperti itu sudah dilakukan oleh sekolah-sekolah dasar hingga tingkat menengah pertama, yang berada di pelosok desa dan beberapa sekolah di pinggiran kota. Itulah salah satu bentuk penghargaan siswa kepada gurunya.
Salamun menyambut Pak Tedjo, mengulurkan tangannya sekedar memberi salam sebagai tanda hormat pada pimpinannya. “Selamat pagi, Pak!”sapa Salamun seperti biasanya. “Selamat pagi juga Pak Mun. Terima kasih, selama ini andalah satu dari tigapuluh guru yang selalu memberi salam dengan menjabat tangan saya. Saya rasakan itu sebagai suatu kehormatan bagi diri saya.” kata pak Tedjo dengan masih menggenggam erat tangan kekar Salamun. Memang selama ini para guru hanya sekedar basa-basi dalam menyapa teman sejawatnya. Terlebih pula kepada Pak Tedjo. Bahkan kadang mereka memilih menghindar daripada sekedar bertemu, memberi salam dan berjabat tangan. Ini terjadi karena tingginya “keakuan” mereka, hasil negatif dari proses tidak kuatnya pertahanan jati diri kebangsaan dalam konteks kontaminasi kebudayaan.
“Pagi ini Pak Mun ngajar? tanya pak Tedjo. “Kalau tidak ada jam ngajar, saya minta Pak Salamun menemui saya di kantor,” lanjut pak Tedjo. “Kita lanjutkan pembicaraan kita kemarin yang belum selesai.” sambil berlalu meninggalkan Salamun yang belum sempat menjawab permintaan pak Tedjo.
Kembali velg bekas truk dipukul si Parjo, tepat pukul tujuh pagi. Keriuhan dan gegap gempita dari anak-anak yang berebut untuk menyiapkan diri berbaris di muka pintu kelas menjadi kebiasaan yang tak lekang. Mereka masuk kelas satu per satu dengan rapi dalam barisan lurus membujur. Selurus niat dan sucinya jiwa anak-anak pedesaan untuk memperoleh pendidikan yang layak dan bermutu.
Hampir selang tiap sepuluh menit setelah teriakan velg bertalu, pak Agus guru PPKn, yang baru saja menerima SK pengangkatan PNS-nya datang dengan wajah kuyu nampak habis begadang semalam. Ia terlambat memasuki kelas sepuluh menit. Setelah itu pak Supri, guru olah raga yang postur tubuhnya kurus kering sama sekali tak mencerminkan penampilan seorang guru yang berkecimpung di bidang olah tubuh, yang juga sudah sepuluh menit lebih ditunggu murid-muridnya di lapangan belakang sekolah. Selanjutnya pak Cecep, pak Dodi, bu Eri, bu Fifi yang rata-rata juga terlambat datang hampir tiga kali dalam seminggunya.
Pak Sutedjo mengamati mereka dari dalam kantornya. “Tak banyak yang diharapkan dari mereka,” gerutunya. “Dan ini tak akan kubiarkan berlarut-larut di akhir masa jabatanku. Harus segera ada perubahan. Hasil evaluasi terhadap para abdi negara yang “sak geleme dhewe” itu akan kusampaikan kepada mereka, sebagai bahan pertimbangan untuk mengambil tindakan berikutnya demi perubahan di sekolah ini, dan satu-satunya harapanku adalah kesediaan Pak Salamun menggantikanku.” Pak Sutedjo sebagai Kepala Sekolah merasa lega setelah para guru yang mempunyai jatah jam mengajar mulai masuk kelas masing-masing melaksanakan tugasnya, meskipun sengaja tidak siap perangkat mengajar, karena mereka “merasa tahu” dengan apa yang harus dilakukannya.
Suasana sepi, hanya sesekali terdengar suara guru menyampaikan materi pelajaran dari kelas yang sedang diajarnya. Salamun masih duduk di belakang meja kerjanya. Ia ragu-ragu untuk menemui Pak Tedjo dan memenuhi permintaannya, karena menurutnya apa yang diinginkan pimpinannya itu berat untuk dijawab dan dipenuhi. Tetapi sebenarnya kedua manusia itu, baik Salamun maupun Sutedjo, mempunyai visi dan misi yang sama dalam pendidikan yaitu bertanggung jawab terhadap siswa sebagai subjek yang harus diolah dengan benar, tulus, dan berkasih sayang hingga harapan untuk mencetak generasi yang “tak sak karepe dewe” sesuai dengan keinginan Salamun dan Sutedjo terwujud.
Keberanian Salamun untuk menemui kepala sekolahnya timbul seketika, setelah rasa kesalnya terhadap keadaan yang bertolak belakang dengan nurani mulai menghantuinya lagi. Rasa kesal untuk ingin segera menyudahi. Rasa kesal adanya pembodohan yang sistematis. Rasa kesal akan suburnya “pencurian waktu”. Rasa kesal terhadap dirinya sendiri yang tak mampu berbuat apa-apa.
Salamun mengetuk pelan pintu kayu yang sudah mulai lapuk karena sebagian termakan rayap. Dari celah papan pintu Salamun melihat pimpinannya itu mengangguk tanda mempersilakannya masuk.
“Bagaimana pak Mun? Masihkah perlu waktu untuk menimbang-nimbangnya?” desak pak Tedjo. Kali ini Salamun kembali dibingungkan dengan keadaan “apa seharusnya jawabanku.”
“ Saya minta waktu lagi Pak. Karena ini menyangkut banyak hal.” Pinta Salamun.
“Jangan lama-lama. Kapan jawabannya saya terima? “
“Dua hari lagi Pak. Saya pastikan itu.”jawab Salamun.
---------------------------------------------------------------
Salamun berada di persimpangan jalan, ia harus memilih, mengambil sikap, dan menentukan. Ia memahami permasalahan ekonomi keluarga yang disampaikan istrinya. Memang, jika tetap menerima atau bertahan tinggal dan bekerja di Argosari berarti ia harus mengorbankan keluarganya untuk berada pada posisi kekurangan tiap bulan. Harus mendengar rengekan Yanti menangis minta minum susu. Harus siap di maki-maki Bu Imah karena utang istrinya di warung semakin besar dan belum terbayarkan sedikitpun. Belum lagi biaya hidup lainnya yang semakin meninggi tak tergapai. Terbayang di pikirannya tatkala ia melihat sendiri bagaimana istrinya mengeluh tentang harga minyak tanah yang sudah mencapai empat ribu lima ratus rupiah per liternya. Beras kwalitas rendah mencapai harga lima ribu rupiah per kilonya. Belum lagi gula pasir, minyak goreng, serta barang kebutuhan hidup lain yang juga semakin melonjak.
Dan jika menolak tawaran Pak Sutedjo kepala sekolahnya, berarti ia harus meninggalkan banyak jiwa yang telah terlanjur menyatu dalam kehidupannya. Jiwa-jiwa yang penuh harapan pada setiap langkah kehidupannya. Ia juga harus meninggalkan kepolosan anak-anak yang mulai bangkit dan bersemangat untuk belajar. Ia harus membiarkan mereka terimbas oleh ulah oknum “semau gue” dalam belajarnya. Ia harus memutus syaraf kepeduliannya hingga entah apa yang akan terjadi pada pak Tedjo dan sekolahnya. Ia meninggalkan pak Cokro teman bermain catur, Dayat, Mardi, dan tetangga lainnya, yang sudah dianggap sebagai saudara sendiri. Tapi yang pasti Salamun meninggalkan komitmennya untuk mengubah perilaku menyimpang teman-teman sejawatnya dalam berdedikasi, dan tentunya Salamun mempertaruhkan masa depan anak-anak desa Argosari dan sekitarnya.
“Pak! Anak kita semakin besar , semakin membutuhkan biaya. Dan kalau kita bertahan di sini, kita sendiri yang akan jadi korban…!” kata istrinya setelah Salamun mencoba mengajak berunding. “Aku sangat mendukungmu dalam pekerjaan muliamu, Pak. Tapi coba lihat kenyataan hidup kita. Utang kita semakin menumpuk dan bapak tidak dapat hanya mengandalkan honor dari tempat Bapak ngajar.” Tambahnya. Salamun diam termenung membenarkan pendapat istrinya itu. “Aku harus segera memutuskan dan memberi jawaban kepada pak Tedjo. Kasihan dia.” katanya setelah mempertimbangkan banyak hal termasuk alasan masuk akal istrinya.
----------------------------------------------------------------------------------
Seperti pagi-pagi biasanya, Salamun datang pukul 05.45. Kali ini langsung masuk kantor guru, duduk di belakang meja kerjanya lalu mencoba menyiapkan bahan ajar. Matanya merah lantaran sepanjang malam tadi tidak tidur hanya untuk mencoba mencari jalan keluar namun tak juga menemukannya. Lidahnya terasa pahit karena teh hangat yang diminumnya tanpa gula terasa menusuk tiap sisi indera rasanya, gara-gara bi Imah sudah tidak lagi memperbolehkan bon belanjaan.
Tak lama kemudian satu per satu guru-guru lain berdatangan. Dan entah mengapa hari ini mereka tidak datang terlambat seperti biasanya. Mereka saling menyapa, memberi salam dan duduk di tempatnya masing-masing. Ada sesuatu yang aneh dirasakan Salamun pagi itu. Suatu perubahan kebiasaan seperti yang diharapkan Salamun dan pak Tedjo. Mereka pun memasuki ruang kelas tepat waktu sesuai jadwal yang dibuat bu Lastri sebagai wakasek kurikulum. Salamun keheranan melihat hal itu, tetapi ia bersyukur dan mengharapkan kedisiplinan teman-temannya seperti itu bukan merupakan sekedar pemanis agar surat usulan kenaikan pangkatnya ditandatangani kepala sekolah.
Kali ini Salamun telah menyiapkan jawaban untuk pertanyaan dan permintaaan Pak Tedjo. Harapannya kepala sekolahnya itu dapat menerima dan memaklumi jawaban yang disampaikan itu, meskipun Salamun paham benar akan kekecewaan pak Tedjo.
Tapi mau apalagi, itulah pilihan hidup. Salamun tidak mau memunafikkan dirinya dengan lebih memilih “pengabdian tak kunjung akhir”. Ia lebih memilih berpikir rasional bahwa anak dan istrinya perlu biaya untuk hidup. Anak dan istrinya ingin perubahan taraf kehidupan. Bukan sekedar menikmati keramahtamahan, keluguan, dan kepolosan bernuansa kehidupan pedesaan. Salamun tak mau dianggap kepala keluarga yang idealis tapi melupakan tanggung jawab terhadap keluarganya.
Saat maksud itu disampaikannya, pak Tedjo hanya terdiam tapi memaklumi, harapannya untuk mempertahankan kelangsungan sekolah dengan mengadakan perubahan yang paling mendasar yaitu “kedisiplinan” kembali menjadi nol. Sementara dia tak mampu berpikir sendiri tanpa kawan seiring semaksud seperti Salamun.
Salamun bergegas menyalami beberapa teman guru, para murid, dan kepala sekolahnya dua hari setelah ia menyampaikan maksudnya. Beberapa siswa yang sudah merasa dekat dengan gurunya itu terisak-isak gambaran keberatan hatinya ditinggalkan guru tercinta. Lambaian tangan dan senyum kekecewaan mengiringi berputarnya roda-roda pik-up tua yang mengantar kepergian Salamun dan keluarganya.
Tak banyak yang dibawa dalam hatinya selain harapan agar keinginan anak-anak dan pak Tedjo terwujud meski dalam waktu yang sangat lama. Dan tentu dibawanya pula satu stopmap merah kusam berisi beberapa piagam penghargaannya yang tak lagi punya arti, selain hanya sebagai kenangan bahwa dia pernah menjadi yang terbaik di bidang pekerjaannya. Piagam yang tidak mungkin laku di pekerjaan barunya, sebagai kepala gudang sebuah perusahaan.
Surabaya, Desember 2009
Dipersembahkan kepada kawanku Guru

Kamis, 10 Desember 2009

Sekedar Mengenal Imbuhan Se-

IMBUHAN SE-
I.Awalan “se-“.
Awalan “se-“ berfungsi membentuk kata keterangan (adverbia), sedangkan makna yang didapat sebagai hasil proses pengimbuhannya adalah menyatakan:
1. satu   
2. seluruh atau segenap   
3. sebanding, sama, serupa atau seperti
4. sama waktu atau pada waktu   
5. seberapa, sebanyak, sesuai
1. Untuk mendapatkan makna “satu” awalan “se-“ diimbuhkan pada kata benda (nomina) dan kata-kata yang menyatakan satuan ukuran.
Contoh:
a) Dia memesan segelas bir dingin dan seporsi sate kambing.
  (segelas, seporsi artinya satugelas, satu porsi)
b). Berapa harga seliter bensin sekarang?
  (seliter artinya satu liter)
c) Aya sepesawat dengan saya waktu berlibur ke Pulau Bali.
  (sepesawat artinya satu pesawat)
d) Ada serombongan wisatawan Jepang menginap di hotel ini.
  (serombongan artinya satu rombongan)
2. Untuk mendapat makna “seluruh atau segenap” awalan “se-“ diimbuhkan pada kata benda (nomina).
Contoh:
a) Menteri Dalam Negeri membuka rapat kerja gubernur se-Indonesia.
  (se-Indonesia artinya seluruh Indonesia)
b) Penduduk sedesa itu kena penyakit demam berdarah.
  (sedesa artinya seluruh desa)
c) Gara-gara dia siswa-siswa sekelas kena hukuman.
  (sekelas artinya seluruh kelas)
3. Untuk mendapatkan makna “sebanding, sama, atau serupa”, awalan “se-“ dimbuhkan pada kata sifat (adjektiva).
Contoh:
a).Ombak setinggi bukit telah menenggelamkan kapal nelayan itu.
  (setinggi artinya sama tinggi dengan (bukit)
b).Menurut selera saya masakan ini tidak seenak masakan ibu.
  (seenak artinya sama enak seperti (masakan)
c) Miki ingin punya pacar seganteng bintang film Tom Cruise.
  (seganteng artinya sama ganteng serupa (bintang film)
4. Untuk mendapatkan makna “sama waktu atau pada waktu” awalan “se-“ diimbuhkan pada kata kerja (verba).
Contoh:
a) Sekembali dari Indonesia dia sibuk dengan pekerjaan di kantor.
  (sekembali artinya begitu kembali)
b) Sedatang presiden direktur segera diadakan rapat staf.
  (sedatang artinya begitu atau pada waktu (presiden direktur) datang)
c) Setiba di bandara mereka dijemput oleh karyawan hotel itu.
  (setiba artinya begitu atau pada waktu (tiba)
5. Untuk mendapatkan makna “sebanyak, seberapa atau sesuai” awalan “se-“ diimbuhkan pada kata kerja (verba) yang menyatakan sikap atau kesanggupan.
Contoh:
a). Di sini kita bisa bermain-main sepuas hati kita.
  (sepuas artinya seberapa atau sampai (hati kita) puas)
b) Kerjakanlah sedapatmu, jangan terlalu memaksakan diri.
  (sedapatmu artinya sebanyak yang (kamu) dapat)
c) Kamu boleh beristirahat di kamar itu semaumu.
  (semaumu artinya seberapa atau sesuai dengan (kamu) mau)
Catatan : Awalan “se-“ pada kata-kata seperti setelah, sesudah, sebelum, dansehingga berfungsi membentuk kata penghubung (konjungsi).
II. Imbuhan Gabung “se-nya”.
Imbuhan gabung “se-nya” adalah awalan “se-“ dan akhiran “-nya” yang digabungkan pada sebuah kata dasar.
Imbuhan gabung “se-nya” berfungsi membentuk (a) kata penghubung (konjungsi),
(b) kata keterangan (adverbia).
1. Imbuhan “se-nya” sebagai kata pembentuk kata penghubung (konjungsi) digunakan secara terbatas pada beberapa kata tertentu dari jenis kata kerja (verba), kata sifat (adjektiva), atau kata keterangan ( adverbia).
Contoh:
a. Kami akan membeli mobil baru sekiranya ada uang lebih
  (sekiranya artinya umpamanya, andai kata atau kalau).
b. Sebaiknya kamu tidak berpacaran dengan gadis matre itu.
  (sebaiknya artinya lebih baik)
2. Imbuhan “se-nya” sebagai pembentuk kata keterangan (adverbia) digunakan secara terbatas pada beberapa kata kerja (verba) dan kata sifat(adjektiva).
Contoh:
a. Dia jatuh sakit sekembalinya dari berlibur di Pulau Bali.
  (sekembalinya artinya pada saat kembali)
b. Jangan bicara seenaknya tanpa mengindahkan perasaan orang lain.
  (seenaknya artinya enak saja, sembarangan atau semau hati )
Catatan:
Berbeda dengan akhiran”-nya pada kata sepatutnya, sekiranya dll., kata “-nya” pada kata seperti sedapatnya, sepuasnya, sekenyangnya, seenaknya, semaunya, adalah kata ganti orang ketiga, bukan akhiran “-nya”, sebab posisinya dapat diganti dengan “-mu”, misalnya, sedapatmu, sepuasmu, sekenyangmu, seenakmu, semaumu.

Kamis, 12 November 2009

KATA BAKU DARI A KE Z

KATA BAKU DARI A SAMPAI Z
tidak baku (baku) : arti

A
abrasi (aberasi): Penyimpangan dari yang umum; tidak wajar
absorsi (absorpsi): penyerapan; penghisapan
accu (aki): alat himpun tenaga listrik
adap (adab): moral; etika; sopan-santun
adegio (adagio): waktu perlahan-lahan, tetapi berekspresi tinggi
adesi (adhesi): bersifat melekat
adi busana (adibusana): busana yang dirancang secara ekslusif; busana kebesaran
adi daya (adidaya): adikuasa; super power; negara Amerika Serikat
adi gang (adigang): bersifat pamer kekuasaan dan kekuatan
adi guna (adiguna): bersifat pamer kepandaian
adi gung (adigung): bersifat pamer keluhuran atau keturunan
adi kodrati (adikodrati): kekuatan dari Tuhan
adi luhung (adiluhung): luhur dan bermutu tinggi
aditorium/oditorium (auditorium): ruang untuk mendengarkan ceramah; ruang pertunjukan
admin (administrator): orang yang mempunyai kemampuan memimpin dan memerintah secara baik
adpokat (advokat): pakar hukum; pengacara
advent (adven): kedatangan Isa Al-Masih dalam agama Kristen
adzan (azan): seruan untuk mengerjakan salat
afdol (afdal): lebih utama; alangkah baiknya
agamis (agamais): orang yang beragama
ajeg (ajek): terus-menerus secara berkala
ajektif (adjektif): kata yang menguraikan nomina
ajimat (azimat): yang mempunyai kesaktiannya
akhirul kalam (akhirulkalam): penutup kata
aktuil (aktual): bahan pembicaraan yang hangat
alfa (alpa): lalai dari tugas atau kewajiban
aliyah (aliah): pendidikan tingkat menengah atas
alpha (alfa): huruf pertama abjad Yunani
amandemen (amendemen): usulan untuk mengubah rancangan undang-undang
amben (ambin): balai-balai; tempat tidur
ambeyen (ambeien): penyakit wasir
ambulan/ambulance (ambulans): mobil pengangkut jenazah atau penolong orang sakit
amirulhaj (amirulhaji): yang memimpin jamaah haji
amper (ampere): satuan ukuran kekuatan arus listrik
analisa (analisis): penyelidikan atau penguraian; telaah
anestesia (anestesi): hilang rasa pada tubuh
anoda (anode): bagian yang bermuatan positif
ansambel (ensambel): grup pemain musik
antar umat beragama (antarumat beragama): antara umat beragama yang satu dengan umat beragama yang lain
antene (antena): kawan pancar penangkap gelombang radio atau televisi
antri (antre): menunggu giliran
aparatur (aparat): pegawai negeri
aplus (aplaus): tepuk tangan tanda setuju
apostrop/opostrop (apostrof): tanda penyingkat (‘); misal: ‘kan; ‘93
apotik (apotek): tempat menjual obat atas resep dokter
aquades (akuades): air dari hasil sulingan
arbiter (arbitrer): sewenang-wenang; sesuka-suka
asal-muasal (muasal): asal-usul; asal mula
aseptor (akseptor): peserta KB
asesori (aksesori): kelengkapan
ashar/’ashar (asar): salat pada petang hari
astronot (astronaut): antariksawan; angkasawan; orang yang ke ruang angkasa
atheis (ateis): paham yang tidak mempercayai Tuhan
atmosfir (atmosfer): udara yang menyelimuti bumi
atret (ateret): kendaraan yang tergerak mundur
audiens (audiensi): kunjungan untuk menghormati
auliya (aulia): orang-orang suci; para wali
autobiografi (otobiografi): buku riwayat hidup yang ditulis sendiri
automatis/automatic (otomatis): dengan sendirinya
azas (asas): hukum dasar; dasar; landasan

B
balance (balans): keseimbangan; seimbang
baligh (balig): cukup umur
balsem (balsam): minyak kental untuk digosokkan
bandrol (banderol): pita cukai; daftar harga
bangker (bungker): lubang perlindungan di dalam tanah
bapaknda/bapakda (bapanda): ayah; bapak
baqa (baka): alam kelanggengan; kekal
barzah (barzakh): alam kubur
batalyon (batalion): bagian dari resimen dalam kesatuan tentara
baterei (baterai): alat himpun dan pembangkit listrik; lampu senter
bathil (batil): batal; tidak benar; tidak sah
bazaar (bazar): pasar amal
belangko (blangko): surat keterangan yang belum diisi
belender (blender): alat pelumat makanan
bemper (bumper): besi penahan benturan pada kendaraan
bengkoang/bengkowang (bengkuang): nama sejenis tumbuhan umbi yang manis
bensol (benzol): jenis bahan bakar; benzena
bergajul (bargajul): pemuda nakal
berjanji (barzanj): bacaan pujian riwayat Nabi Muhammad
berterbangan (beterbangan): banyak yang terbang ke sana kemari
BH (beha): pakaian dalam wanita penutup buah dada
bhayangkara (bayangkara): pasukan pengawal
bhiku (biksu): pendeta Budha
bilyar (biliar): permainan bola sodok
bilyun (biliun): seribu miliar
binatu (benatu): pencuci dan penyeterika pakaian; dobi
biosfir (biosfer): bagian dari atmosfer paling rendah
birahi (berahi): rasa cinta dengan lawan jenis yang berlebihan
bis (bus): kendaraan angkutan manusia ukuran besar
bisep (biseps): otot berkepala dua
blacu (belacu): kain mori
blantika (belantika): bisnis dalam dunia musik
blokir (blokade): kepung; diputus hubungannya dengan luar
bolpoint/bolpen/polpen (bolpoin): alat tulis bermata pena
bombon (bobon): gula-gula; permen manis
bonafid (bonafide): perusahaan yang berkembang dengan baik
bongkok (bungkuk): keadaan punggung yang melengkung
bowling (boling): olahraga menggelindingkan bola; bola gelinding
braile (braille): cara pengajaran tulisan kepada tunanetra
brandal (berandal): perampok yang beraksi dalam mencari mangsanya
brangkas (brankas): lemari tempat menyimpan uang
breidel/bridel (bredel): pencabutan izin
brengsek (berengsek): banyak tingkah dan ulah
brewok (bewok): berbulu cambang; bercambang
bromocorah (bramacorah): penjahat yang sering keluar masuk penjara; penjahat kambuhan
bronkitis (bronkhitis): radang tenggorokan
budeg (budek): tuli; tunarungu; lemah atau kurang pendengaran
budget (bujet): anggaran pemasukan dan pengeluaran; rencana anggaran
bumiputera (bumiputra): penduduk asli; pribumi
bungalow (bungalo): tempat peristirahatan di luar kota

C
cabe (cabai): lombok
cafetaria (kafetaria): kedai makan dan minum; restoran kecil
cap cai (capcai): nama jenis masakan Cina
cape/capek (capai): badan terasa kurang enak; lelah
cendikia (cendekia): orang cerdik pandai
cengkeh (cengkih): bunga untuk bahan rokok
cengkram (cengkeram): genggaman secara erat
cengkrama (cengkerama): bersenang-senang
chlor (klor): bahan pemutih dan pembunuh kuman di air; zat kimia
cidera (cedera): sedikit luka
cigaret (sigaret): rokok kertas tanpa penyaring; rokok putih
cinderamata (cenderamata): tanda mata; pemberian; kenang-kenangan
clash (kles): bentrokan; pertentangan; perselisihan
clien (klien): penerima layanan hukum dari pengacara; pelanggan
closet (kloset): porselin pada tempat buang air besar
club (klab): perkumpulan; gedung pertemuan
clurit (celurit): sabit lengkung
cockpit (kokpit): ruang pilot atau kopilot pesawat terbang
cocktail (koktail): minuman beralkohol bercampur es batu dan gula
coklat (cokelat): warna seperti sawo matang
combro (comro): nama sejenis panganan
cumulus (kumulus): awan padat yang menggumpal

D
da’i (dai): pendakwah agama Islam
da’wah (dakwah): penyiaran dan penyebaran agama Islam
dajjal (dajal): pembohong besar; penghasut; penipu
debet (debit): uang utangan yang mesti ditagih; piutang; volume air
debitur (debitor): pihak yang mempunyai utang; penghutang
defiasi (deviasi): penyimpangan terhadap peraturan
degresi (digresi): pembicaraan yang menyimpang; lanturan
dekrit (dekret): perintah presiden dalam bentuk keputusan
deodorant (deodoran): zat penghilang bau badan
depo (depot): rumah kecil tempat berjualan es atau rokok
depolitisir (depolitisasi): penghapusan semua bentuk kegiatan politik
deputy (deputi): wakil pejabat
design/disain (desain): rancangan; corak; pola
despenser (dispenser): mesin saji; penyemprot
destilasi (distilasi): proses penguapan
deterjen (detergen): bahan pencuci pakaian
detil/detel (detail): sampai ke bagian-bagian kecil; rinci
deviden (dividen): bagian dari keuntungan perusahaan
dharma (darma): ajaran atau perbuatan baik; kebajikan
dhoif (daif): kekuatan hukumnya lemah
dhuhur/lohor (zhuhur): salat pada tengah siang hari; waktu tegah siang hari
diagnosa/diagnose (diagnosis): pemeriksaan untuk mengetahui jenis penyakit
dioda (diode): alat penyearah arus
disco (disko): irama musik pop
disersi/diserse (desersi): pengkhianatan; pembelotan
diskotik (diskotek): gedung atau ruang berdisko
diskripsi (deskripsi): penguraian; pemaparan; penggambaran
dollar (dolar): mata uang Amerika Serikat
domain (domein): harta benda milik negara
donatur (donator): pemberi sumbangan; penyumbang
dopping (doping): penggunaan obat terlarang
dramatisir (dramatisasi): proses pendramaan; bagaikan permainan drama
drum band/dramben (drumben): seperangkat musik genderang
dumping (damping): penjualan barang di bawah harga untuk menguasai pasaran
duren (durian): buah yang kulitnya berduri
dzat (zat): bahan pembentuk benda; hakikat; unsur; wujud
dzikir (zikir): pujian berulang-ulang untuk mengingat Allah

E
eksebisi/eksibisi (ekshibisi): pameran; pertunjukan
eksim (eksem): penyakit kulit yang terasa gatal-gatal
eksport/export (ekspor): pengiriman sesuatu ke luar negeri
ekstrim (ekstrem): keras dan teguh pendirian; fanatik
ekwivalen/equivalen (ekuivalen): kadarnya sebanding
elektroda (elektrode): kutub baterai listrik; pengalir arus listrik
elip (elips): bundar melonjong
elit (elite): kalangan terpilih; terpandang
empek-empek (pempek): makanan khas Palembang
engine (enjin): alat penggerak mesin; mesin
ensiklopedia (ensiklopedi): kumpulan karya berbagai ilmu disertai penjelasannya
ephos (epos): syair kepahlawanan; wiracarita
episod (episode): bagian dari suatu cerita
erobatik (aerobatik): ketangkasan permainan di udara
esen/esense (esens): sari manis; biang
essay/essai (esai): tulisan yang berisi pandangan penulisnya
ethanol (etanol): alkohol

F
faham (paham): aliran; mazhab; mengerti benar; pemikiran
fak (vak): mata pelajaran atau mata kuliah; kepintaran khusus
faksimil/facsimil/faximil (faksimili): mesin foto kopi jarak jauh
faksinasi (vaksinasi): pemasukan bibit penyakit ke tubuh yang dilemahkan
fakum/vacum (vakum): kosong; hampa; tidak ada isinya
falid (valid): tingkat kebenarannya tinggi; sahih
familiar (familier): bersifat kekeluargaan atau kekerabatan; akrab
faqih (fakih): pakar hukum Islam
farmakop (farmakope): buku obat-obatan standar
fas (vas): tempat wadah bunga hiasan; jambangan
ferri/fery (feri): kapal penyebrangan
filsof/filsuf (filosof): pakar filsafat; ahli pikir
finish (finis): penghabisan
fitoksoid (fitotoksoit): zat yang menimbulkan tumbuhan keracunan
foklor (folklor): cerita rakyat dan adat istiadatnya atau ilmunya
formil (formal): sesuai dengan aturan; resmi
foto copy/foto kopi/photo copy (fotokopi): mesin pengganda barang cetak atau hasilnya
foto studio (studio foto): studio untuk pemotretan; ruang untuk mengambil gambar
fotosintesa/fotosintesis (fotosintetis): pembentukan zat makanan pada tumbuhan di dalam bantuan sinar matahari
frasa (frase): gabungan kata yang bermakna
frekwensi (frekuensi): getaran gelombang; kekerapan
frigit (frigid): tidak mudah terangsang; nafsu seksualnya tidak bergairah
fron (front): garis depan pertahanan; medan laga
frustasi (frustrasi): rasa kecewa atau putus asa karena kegagalan

G
galaktose (galaktosa): gula yang masih sederhana
galleri/galery (galeri): gedung kesenian
gamma (game): derajat kekontrasan film dalam fotografi
gasal (gazal): puisi delapan larik sebaitnya
geladi resik/gladibersih (geladi bersih): latihan terakhir sebelum dilaksanakan tugas
gendewa/gandewo (gandewa): busur panah
geneologi/geneaologi (genealogi): garis keturunan; silsilah
genius (jenius): kadar intelegensi tinggi
genteng (genting): atap rumah; keadaan berbahaya atau kritis
gep (gap): kesenjangan; jurang pemisah; perbedaan
gepok (kepok): pisang yang biasa digoreng
gerejani (gerejawi): bersifat gereja; kegerajaan
geyser (geiser): mata air yang panas dan mengeluarkan uap
ghaib/ghoib (gaib): tersembunyi; terselubung
gip (gips): pembalut tulang patah
gladi (geladi): latihan; pemanasan kerja
glamour (glamor): gemerlap; berkilauan
glondong (gelondong): batangan kayu utuh yang besar
glosary (glosarium): daftar kata dan penjelasannya
glukoma (glaukoma): bular hijau pada mata
glukosa (glukose): zat pembentuk gula; zat gula
goa (gua): lobang besar pada batu atau gunung
goncang (guncang): bergerak-gerak tidak tetap; goyah
gono-gini (gana-gini): harta benda hasil kerja suami istri; kekayaan bersama suami dan istri
grebek (gerebek): datang ramai-ramai untuk menangkap
greget (gereget): semangat keras untuk berbuat
grendel (gerendel): kunci pintu dari logam
griya (gria): rumah; tempat tinggal
grogol (gerogol): rumah-rumahan di atas sampan; pagar
gross (gros): jumlah dua belas lusin; sama dengan 144 buah
gudeg (gudek): masakan dari nangka muda rasa manis; masakan khas Yogyakarta
guide (gaet): pemandu wisata
gulabit (bitgula): tumbuhan yang umbinya bisa untuk membuat gula

H
hadist (hadis): sabda atau perbuatan Nabi Muhammad saw
hakekat (hakikat): yang sebenar-benarnya; intisari; substansi
hal-ihwal (hal-hal): perihal; beberapa hal
handaitaulan (handaitulan): kerabat; keluarga
handal (andal): tangguh; cakap; pandai
hapal (hafal): tinggi daya ingatnya hingga dapat mengucapkan lagi; ingat di luar kepala
hektar (hektare): satuan ukuran luas; sama dengan 10.000 m2
hembus (embus): tiup; alunkan; memasukkan udara
hempas (empas): jatuhkan ke tanah; banting
hetrogen (heterogen): anekaragam; bermacam-macam
hidrolis (hidraulis): penggeraknya tenaga air
higiena/hygiene (higiene): ilmu kesehatan
himbau (imbau): seruan ajakan serius
himpit (impit): desak-desakan; apit
hingar-bingar (ingar-bingar): hiruk-pikuk; gempar
hipermetri (hipermetripia): penyakit mata rabun dekat
hipotesa (hipotesis): anggapan dasar yang diduga-duga
hipotik (hipotek): surat berhutang; kredit dengan jaminan
hipovitaminose (hipovitaminosis): penyakit akibat kekurangan vitamin
hirarki (hierarki): tingkatan secara unit
hiroglif (hieroglif): tulisan Mesir kuna
hisap (isap): tarikan bertenaga hawa; sedot
honocoroko (hanacaraka): aksara Jawa
husada (usada): firma obat dan pengobatan; obat
hutang (utang): uang yang dipinjam orang lain; uang pinjaman
hybrida (hibrida): hasil kawin silang; cangkokan
hymne (himne): nyanyian pujian

I
i’tibar (iktibar): pertimbangan; pengajaran
i’tikaf (iktikaf): mendekatkan diri pada Tuhan di masjid
ibtidaiyah (ibtidaiah): tingkat pendidikan sekolah dasar
iddah (idah): masa tunggu istri bercerai selama seratus hari
idiil/idial (ideal): sesuatu yang dicita-citakan
idiologi (ideologi): hasil atau konsep pemikiran; paham
ijasah (ijazah): surat tanda tamat belajar
ijin (izin): persetujuan; pengabulan
ijma’ (ijmak): kesepakatan para ulama atas suatu masalah
ikhwal (ihwal): perihal; hal-hal
iklas/ihlas (ikhlas): ketulusan hati; rela
illusi (ilusi): hanya angan-angan; khayalan
import (impor): pemasukan sesuatu dari luar negeri
incognito (inkognito): sembunyi-sembunyi; secara menyamar
income (inkam): pendapatan; penghasilan
influensa/influinza (influenza): penyakit batuk; salesma
infra merah (inframerah): sinar matahari yang panas
ingkarsunah/inkar sunah (inkarsunah): tidak mengakui sunah Nabi Muhammad
innalillahiwa innalillahi roji’un (innalillahi wa innalillahi rajiun): ucapan berita kematian; artinya sesungguhnya kita berasal dari Allah dan kembali kepada-Nya
inpus (infus): masuknya cairan ke tubuh orang sakit melalui pembuluh darah
instink (insting): tingkah laku yang diberikan kepada turunannya; naluri
insyaf (insaf): sadar
intel/inteligen (intelijen): dinas rahasia; mata-mata
intelejensi (intelegensi): tingkat kepandaian atau kecerdasan
inten (intens): hebat; sungguh-sungguh; bersemangat
intercontinental/inter kontinental (interkontinental): antara benua yang satu dan lainnya
interest (interes): minat; kemauan
intermezo (intermeso): selingan; sisipan
internist (internis): dokter penyakir dalam
interograsi (interogasi): didengar keterangannya; pemeriksaan dengan pertanyaan
interospeksi (introspeksi): mengoreksi kesalahan atau kekurangan diri sendiri
interplasi (interpelasi): permintaan keterangan atas kebijaksanaan pemerintah
interprestasi (interpretasi): penafsiran; pemahaman; pemaknaan
introver (introvert) sikap menutup diri
intrupsi (interupsi): penyelaan berbicara dalam pertemuan
inventarisir (inventarisasi): pencatatan atau pendataan; barang-barang
inzet (inset): foto; peta; atau gambar kecil pada gambar yang lebih besar
ionosfir (ionosfer): salah satu lapisan bumi
iradah/irodah (iradat): kehendak Tuhan
irasionil/irrasional (irasional): tidak masuk akal; tidak berdasar rasio
Islamiyah (Islamiah): bersifat keislaman
isra’ (israk): perjalanan Nabi Muhammad dari Masjidil Haram ke Masjidil Aksa
isteri (istri): pasangan hidup suami; wanita yang menikah; bini
istighfar (istigfar): mohon ampunan kepada Allah
istinja’ (istinjak): membersihkan kotoran sebelum wudu
istiqomah (istikamah): sikap kokoh dan teguh pendirian
Itali (Italia): negara di Eropa selatan beribu kota Roma

J
jadah (juadah): penganan dari ketan yang ditumbuk
jaelangkung/jailangkung (jalangkung): permainan memanggil ruh
jagad (jagat): dunia dan isinya; alam dunia
jahiliyah (jahiliah): kebodohan; belum beradab
jaman (zaman) : waktu lalu yang menandai sesuatu; waktu ; masa
jejer (jajar): baris atau deret secara teratur; banjar
jemaah/jemaat (jamaah): kumpulan orang beribadah
jenasah (jenazah): jasad orang mati; mayat
jendral (jenderal): pangkat tertinggi dalam militer
jenius (genius) : berkemampuan luar biasa dalam berpikir
jep/jeep (jip): mobil bermesin kuat yang tangguh
jerapah/zerafah (zarafah): binatang berkaki depan lebih panjang daripada kaki depan
jerembap (jerembab): jatuh tertelungkup
jiujitsu/yuyitsu (jujitsu): beladiri khas Jepang
jizim (jisim): jasad; badan; tubuh; raga
jogging (joging): lari kecil untuk menyehatkan badan
joint (join): bergabung; ikut serta; patungan
jor-joran (jorjoran): berlebih-lebihan saling menyaingi
jubilum (jubileum): peringatan ulang tahun suatu peristiwa
jungtur (junktur): titik waktu; hubungan suara
jus (juz): bab atau bagian dalam Alquran

K
ka’bah/kaabah (kakbah): bangunan suci kiblat umat Islam
kaburasi (karburasi): campurnya bahan bakar dan udara pada mesin motor
kaburator (karburator): tempat berlangsungnya karburasi
kaca mata (kacamata): lensa pada mata
kadaluwarsa (kedaluwarsa): habis jangka waktunya
kaedah (kaidah): aturan yang menjadi hukum; rumusan
kaffah (kafah): sempurna; menyeluruh
kahyangan/khayangan (kayangan): singgasana dewa
kakatua/kakak tua (kakaktua): burung yang bisa berbicara
kaleidioskop (kaleidoskop): aneka peristiwa; keker
kalkarim (kalkarium): zat kapur
kamboja (kemboja): tumbuhan berkayu lunak berbunga harum
kameramen/kameraman (kamerawan): perekam gambar
kamuplase (kamuflase): penyamaran; pegelabuhan rupa dan warna; tiwikrama
kangguru (kanguru): binatang mirip kelinci; binatang khas Australia
kangker (kanker): penyakit tumor ganas
kantung (kantong): saku; wadah barang; pundi-pundi
kaos (kaus): sarung baan, kaki, dan tangan
kasep (kasip): terlewat waktu
katagori (kategori): dasar mengelompokkan; kriteria
kataketis (katekis): guru agama Kristen
katalepsia (katalepsi): sulit mengembalikan otot
katalisa (katalisis): pendayagunaan reaksi kimia
kate (katai): pertumbuhannya tidak normal; kerdil; katik
Katholik (Katolik): agama yang pemimpin tertingginya Paus
katoda (katode): sel listrik berkutub negatif
katring/cathering (katering): penyediaan makanan dan minuman; jasa boga
keburu (terburu): tergesa-gesa berangkat tetapi akhirnya tidak terlambat; tergesa-gesa
kecoak (kacoak): lipas; serangga terbang
kedele (kedelai): tumbuhan yang bijinya dibuat tempe
keji beling/kecibeling (kejibeling): daun obat penyakit batu ginjal
kekawin (kakawin): puisi Jawa Kuna
kelakatu (kelekatu): anai-anai bersayap; laron
kelar (klier): sudah beres urusannya; perkaranya sudah jelas
kelenger/klenger (kelengar): tidak sadarkan diri; pingsan
kelep (klep): bagian dari pompa
kemana (ke mana): menanyakan tempat yang akan dituju
kenalpot (knalpot): pembuangan asap kendaraan bermotor
kendor (kendur): tidak kuat dan kencang; melemah; tidak kencang
kenop (knop): tombol; pijatan; putaran
kerapan (karapan): balapan sapi di Madura
kerawitan (karawitan): seni gamelan Jawa
kerdip (kedip): gerak kelopak mata; gerak menutup dan membuka mata; kelip
kerdus (kardus): kertas tersusun tebal; karton
kerjasama (kerja sama): kerja gabungan; kerja bareng
kerol (krol): rambut keriting buatan
kesturi (kasturi): tumbuhan yang daunnya untuk obat luka
ketapel (katapel): kayu bercabang untuk melontarkan batu kecil
ketawa (tertawa): ungkapan rasa senang dengan suara terkekeh-kekeh
ketemu (bertemu): bertatap muka; berjumpa; bersua
kharisma (karisma): kemampuan menimbulkan penghormatan; kewibawaan
khaul (kaul): niat yang dijanjikan untuk berbuat jika keinginan terkabul
kilo watt (kilowatt): satuan tenaga listrik; 1000 watt
klemak-klemek (kelemak-kelemek): berkata pelan sambil memikir; tidak tegas
klengkeng (kelengkeng): buah pohon lengkeng; burung enggang kecil
klenik (kelenik): tidak masuk akal yang dipercayai; takhyul
kleptomania (kleptomani): penyakit kejiwaan sehingga suka mencuri
klop (kelop): cocok benar; sesuai; serasi; pas
klorofil (kloropil): zat hijau daun
kloter (keloter): kelompok terbang
kluwak (keluak): pohon yang buahnya untuk bumbu masak
kluwih (keluih): buah seperti sukun untuk sayur
knop (kenop): pemukul dari karet; kancing baju tombol
koboy (koboi): penunggang kuda
kocar-kacir (kucar-kacir): tercerai berai; porak poranda; berantakan
kolomnis (kolumnis): penulis kolom di media massa
komersil (komersial): bersifat perdagangan atau mencari keuntungan
komfirmasi (konfirmasi): penegasan atas kenyataan atau kebenaran; pembenaran
komoditi (komoditas): barang yang bisa diperdagangkan
komplit (komplet): lengkap segalanya; tiada berkurang
konggres (kongres): pertemuan wakil organisasi untuk mengambil keputusan
kongkow (kongko): omongan yang tidak berguna sambil nongkrong
kongkret/kongkrit/konkrit (konkret): benar-benar ada; nyata
konsekwen (konsekuen): patuh akan peraturan dan bertanggung jawab; taat asas
konsleting (korsleting): terputusnya hubungan arus listrik
kontinyu (kontinu): terus-menerus; berkesinambungan; berkelanjutan; ajek
koordinir (koordinasi): perihal pengaturan
korden/horden (gorden): kain tutup jendela atau pintu
korma (kurma): pohon palm buahnya manis; pohon dan buah khas negara-negara Arab
korp (korps): kesatuan orang banyak dalam suatu kumpulan
kosmonot (kosmonaut): penerbang pesawat ruang angkasa; antariksawan; antronaut
kram (keram): kejang-kejang otot
kramat (keramat): menimbulkan kekuatan di luar kemampuan manusia; angker
kreatifitas (kreativitas): perihal kreatif; kemampuan untuk menciptakan sesuatu
kremi (keremi): cacing kerawit; cacing kecil
kresek (keresek): tiruan bunyi daun kering jatuh; tas plastik
kretek (keretek): rokok tembakaunya dicampur cengkih; rokok nonfilter
krew/cru (kru): kerabat kerja
krucil (kerucil): wayang dari kayu dengan cerita Panji
kulintang (kolintang): alat musik pukul bilah bambu dari Sulawesi Utara
kumpul kebo (kumpul kerbau): hidup bersama pria dan wanita tanpa ikatan sah; pasangan hidup tidak sah
kung fu (kungfu): jenis seni beladiri
kuno (kuna): dahulu kala
kurnia (karunia): belas kasih Tuhan; anugerah
kusen (kosen): kerangka jendela dari kayu
kusuma/kesumah (kesuma): bunga; wanita cantik
kwaci (kuaci): biji semangka yang dikeringkan
kwartal (kuartal): seperempat tahun; triwulan
kwitansi/kwitangsi (kuitansi): lembaran tertulis sebagai bukti penerimaan uang yang ditandatangani oleh pihak penerima

L
laba-laba (labah-labah): serangga besar berkaki delapan
lajim/lasim (lazim): sudah biasa; umum; galib
lamtorogung (lamtaragung): lamtara yang berpohon besar
lapal/rapal (lafal): cara pengucapan bunyi bahasa
lasykar (laskar): kelompok serdadu; pasukan perang
laveransir (leveransir): penyedia kebutuhan
ledeng (leding): saluran air dari pipa
legalisir (legalisasi): pengesahan sesuai dengan peraturan
legenda (legende): cerita rakyat zaman dulu dihubungkan dengan sejarah
lemari (almari): tempat menyimpan baju
lembap (lembab): sedikit basah sedikit kering
leukimia (leukemia): penyakit kanker darah
limpha/limpa (limfa): cairan pada jaringan limfa dan pembuluhnya
linier (linear): berkaitan dengan garis
literal (litoral): antara pantai berpasang tinggi dan rendah
liver (lever): hati
lobang (lubang): Hang; bolong; pintu masuk sesuatu
loby (lobi): ruang teras hotel; ruang tunggu hotel
lokalisir (lokalisasi): pembatasan tempat atau lingkungan
longmarch/long march (longmars): gerak jalan jarak jauh
lontang-lantung (luntang-lantung): ke sana kemari tidak bekerja; menganggur
losin/dozen/dosin (lusin): satuan ukuran berjumlah dua belas
lotere (lotre): permainan berbau judi; undian
luwak (luak): kucing hutan pemakan ayam; musang
lux (luks): berharga mahal; mewah

M
mpu (empu): ahli membuat keris
menyan (kemenyan): bahan saji-sajian; dupa bakar
ma’af (maaf): ampun; jangan marah
mabok (mabuk): hilang kesadaran; amat gemar; tergila-gila
madukoro (madukara): kain sutera benang emas
mafum/ma’fum (mafhum): sudah faham
maag (mag): salah satu alat pencernaan; lambung
mahnet (magnet): besi berdaya tarik seperti listrik
maghrib (magrib): waktu matahari tenggelam; waktu salat magrib
Mahabarata (Mahabharata): kisah perang keluarga Bharata
Maha Esa (Mahaesa): Tuhan; Allah
Maha Kuasa (Mahakuasa): amat besar kekuasaannya yakni Allah
Mahapengasih (Maha Pengasih); yang mengasihi semua makhluk; Allah
mahardhika (mahardika): berbudi luhur; bangsawan; bijaksana
maesa (mahesa): kerbau
mahfudz (mahfuz): yang tersembunyi dalam hati
maisena (maizena): tepung jagung
maqam/maqom (makam): jalan yang dilalui sufi; tingkatan; kuburan
makcomblang (mak comblang): wanita perantara perjodohan
makdum (makhdum): tuan kiai; tuan guru
ma’rifat (makrifat): tingkat penyerahan diri kepada Tuhan; pengetahuan
makro ekonomi (makroekonomi): ekonomi skala besar
ma’ruf (makruf): perbuatan baik; terkenal
mala praktek/mala-praktek/malpraktek (malapraktik): praktik dokter yang menyalahi kode etik
mampet (mampat): jalan airnya terhambat; tersumbat
manager (manajer): pengelola unit kerja; pemimpin usaha kerja
mendem/mendam (mandam): terasa pusing akibat mabuk makanan
mandeg (mandek): jalan buntu; berhenti; stop
mangkok (mangkuk): cawan porselen
mantera (mantra): ucapan yang dapat menimbulkan kekuatan gaib
manuskrif (manuskrip): naskah tulisan tangan
marathon (maraton): lomba lari jarak jauh; terus-menerus tiada henti
margarine (margarin): mentega dari minyak
marjinal (marginal): berkitan dengan margin
massal (masal): bersama banyak orang; melibatkan banyak orang
mesjid (masjid): tempat sujud ketika orang Islam salat
mas kawin (maskawin): pemberian pengantin pria kepada wanita waktu menikah
mas (emas): logam mulia
mentari (matahari): benda angkasa yang menyinari bumi
matematik (matematika): ilmu bilangan atau hitung
madzab (mazhab): aliran dalam hukum fikih; paham
mbalelo (mbalela): melawan aturan secara terang-terangan
mebeler (mebel): perabot rumah tangga dari kayu
mass media (media massa): sarana komunikasi yang menyebarkan berita
melody (melodi): urutan nada musik; nyanyian; tembang
mega ton (megaton): satuan sejuta ton daya ledak
mega watt (megawatt): satuan daya listrik sejuta watt
menyuci (mencuci): membersihkan dari kotoran
menterapkan (menerapkan): mempraktikkan
menterjemahkan (menerjemahkan): mengalihkan pengertian ke bahasa lain; mengalihbahasakan
mentertawakan (menertawakan): tertawa karena
monopause (menopause): tidak haid lagi
menthol (mentol): obat gosok tubuh bentuk kristal
merk (merek): tanda pengenal hasil produksi
meram (merem): memejamkan mata
merkurokrum (merkurokrom): obat luka warna merah
mess (mes): rumah tempat tinggal sementara secara bersamaan; pupuk buatan
mustika (mestika): batu permata mirip intan berharga mahal
methanol (metanol): bahan bakar dari gas alam
metrei/materai (meterai): segel; cap
metoda (metode): cara kerja
mie (mi): makanan berbentuk tali dari tepung terigu
mi’raj (mikraj): perjalanan Nabi Muhammad dari Masjidilaksa ke Sidratulmuntaha
mikroba (mikrobe): makhluk kecil yang bisa dilihat dengan miskroskop; kuman
mikro ekonomi (mikroekonomi): ekonomi skala kecil
mill ampere (miliampere): seperseribu ampere
milyar (miliar): seribu juta
milyader (miliarder): orang kaya raya yang hartanya bermiliar-miliar
milyoner/milyuner (miliuner): orang yang kekayaannya berjuta-juta; jutawan
miyop (miop): dapat melihat hanya dari jarak dekat
miopi (miopia): dapat melihat dengan baik hanya dari jarak dekat
missi (misi): mewartakan Injil; penyebaran agama Kristen; utusan
mithos (mitos): cerita gaib tentang asal-usul
mobilisir (mobilisasi): pengerahan orang untuk menjadi militer; menggerakkan massa
moderen (modern): mutakhir; yang paling baru
monarkhi (monarki): sistem pemerintahan raja
monotheis (monoteis): kepercayaan satu Tuhan
monotype (monotipe): mesin susun huruf lepas
montage (montase): pengaturan pandangan dalam pembuatan film
moril (moral): budi pekerti; akhlak; perbuatan baik-buruk
mozaik (mosaik): seni dekorasi bidang
moto (motto): semboyan sebagai pedoman
muamalah (muamalat): berurusan dengan kemasyarakatan; kemasyarakatan
muadzin (muazin): penyuru azan; juru azan
mubaligh (mubalig): penyiar dan penyebar agama Islam
mubalighoh (mubaligat): mubalig wanita
muqadimah/muqaddimah (mukadimah): pembukaan; pendahuluan
mu’jizat/mukjijat (mukjizat): kelebihan Nabi dan Rasul
multi fungsi (multifungsi): banyak fungsinya
mummi (mumi): mayat yang diawetkan dengan balsam
mucikari (muncikari): induk semang perempuan lacur; germo
mursid (mursyid): orang yang berbakti kepada Tuhan; guru agama
musyafir (musafir): orang bepergian jauh
mushala/musholah/musholla (musala): tempat salat
musium (museum): gedung benda sejarah; tempat benda kuna disimpan
musim penghujan (musim hujan): musim yang sering terjadi hujan

N
nadar/nadzar (nazar): janji diri sendiri berbuat jika cita-citanya terkabul; kaul
nafas (napas): udara yang keluar dan masuk lewat hidung
nahas (naas): celaka; malang; mendapati musibah
nahkoda/nakoda (nakhoda): kapten kapal
nampak (tampak): bisa dilihat dengan mata; kelihatan
narkotika (narkotik): obat perangsang; obat penenang saraf
nasehat (nasihat): saran yang membangun; anjuran baik
neko-neko (neka-neka): aneh-aneh; nyeleneh-nyeleneh
nenas (nanas): buah bersisik mata yang berduri
neo-kolonialisme (neokolonialisme): paham kolonial baru
netralisir (netralisasi): proses penetralan penawaran racun atau bisa
netting (neting): permainan di depan net; bola menyentuh net
netto (neto): berat bersih; penghasilan bersih
nina bobo (ninabobo): tembang untuk menidurkan bayi
nipas (nifas): darah dari rahim yang keluar setelah melahirkan
nomaden (nomad): kelompok orang yang hidupnya berpindah-pindah
nomer (nomor): angka urutan kedudukan
non aktif/non-aktif (nonaktif): tidak bertugas lagi
non Indonesia (non-Indonesia): bukan Indonesia
nonsen (nonsens): omong kosong; tidak ada artinya
notulen (notula): catatan singkat hasil pertemuan

O
okulele (ukulele): alat musik seperti gitar empat dawai
omset (omzet): uang hasil penjualan
ongseng/oseng-oseng (gongseng): menggoreng tanpa minyak; hanya dengan bumbu
oplet (opelet): angkutan umum berbentuk sedan
orange (oranye): merah kekuningan; jingga
organisir (organisasi): mengatur sesuatu hingga membentuk kesatuan; satu kesatuan
orisinil (orisinal): masih seperti semula; belum berubah; asli
orkhestra/orchestra (orkestra): orkes gesek
osmosis (osmose): tembusnya dinding sel oleh percampuran dua cairan
otentik (autentik): asli; sah
otopsi (autopsi): pembedahan tubuh mayat
otto (oto): kereta tenaga mesin; mobil

P
pacet (pacat): lintah darat
padepokan (pedepokan): tempat semedi; sanggar seni
padri (paderi): pendeta Kristen atau Katolik; pastur
palem (palm): keluarga tumbuhan kelapa atau kurma
pamfelet/famplet (pamflet): brosur; selebaran
panca indra (pancaindera): lima indera yaitu penglihatan, pencium, pengecap, perasa, pendengar
panembahan (penembahan): sebutan raja atau orang yang dihormati
pangkreas (pankreas): kelenjar ludah perut
panitra (panitera): pencatat dalam persidangan; penulis
paradox (paradoks): berlawanan; bertentangan
paragoge (parogog): penambahan huruf pada akhir kata; misal: pen menjadi pena, lamp menjadi lampu
paramedik (paramedis): pembantu dokter
parasit (parasut): penerjun payung; pasukan payung
pas foto/pas photo (pasfoto): ukuran foto setengah badan
pasca panen/pasca-panen (pascapanen): masa usai panen
pasport (paspor): surat keterangan bepergian ke luar negeri
patent (paten): hak pemakaian karya sendiri; hak cipta
pateri (patri): luluhan timah untuk menyambung besi; solder
patriakat (patriarkat): sistem kekeluargaan garis ayah
patrilinial (patrilineal): kekeluargaan garis ayah
pavilyun/paviliyun (paviliun): bangunan tambahan samping rumah
Pebruari (Februari): bulan kedua tahun Masehi
pedes (pedas): rasa seperti rasa lombok
pelaminan (pelamin): tempat duduk
peliara/piara (pelihara): jaga dan rawat agar tetap baik
pendopo (pendapa): bagian depan rumah; ruang luas untuk pertemuan
pengrajin (perajin): orang yang profesinya membuat kerajinan
perduli (peduli): peraturan
pernis (vernis): minyak kental untuk mengilatkan benda
Philipina (Filipina): Negara di Asia Tenggara dengan ibukota Manila
phobi (fobi): rasa takut yang tidak jelas penyebabnya
photo (foto): potret; gambar
piranti (peranti): bahan yang diperlukan; perlatan
pirsawan (pemirsa): penonton televisi
plat/plet (flat): bangunan tingkat untuk tempat tinggal; apartemen
plesetan (pelesetan): ragam bahasa yang sengaja dibelok-belokkan
plesir (pelesir): bepergian keluar daerah untuk bersenang-senang
pleton (peleton): satu pasukan prajurit
plintir (pelintir): gerak memutar
plonco (pelonco): pengenalan dan penghayatan lingkungan baru
plontos (pelontos): kepala dibuat tidak berambut; gundul
polio (folio): jenis ukuran kertas
pondasi (fondasi): dasar bangunan

Q
qasidah/qosidah (kasidah): nyanyian dari Arab
qodariyah (kadariah): pandangan bahwa kehidupan manusia ditentukan sendiri oleh manusia
qodi/qadi (kadi): hakim agama Islam
Qodiriyah (Kadiriah): aliran tarikat yang didirikan Abdul Kadir Jailani
qolam/qalam (kalam): alat tulis; perkataan
qolbu (kalbu): pusat perasaan batin; hati
Qomariyah (Kamariah): penanggalan berdasarkan peredaran bulan
qomat (kamat): seruan salat segera dimulai
qona’ah (kanaah): merasa cukup menerima pemberian Allah
qori (qari): laki-laki pembaca Alquran
qoriah (qariah): wanita pembaca Alquran
qunut (kunut): doa yang kadang-kadang dibaca salat subuh
Qur’an (Quran/Alquran): kitab suci umat Islam
Quraisy (Kuraisy): suku bangsa di Arab Saudi



R
radio aktif (radioaktif): sinar radium dan uranium untuk pengobatan
raka’at/rekaat (rakaat): hitungan dalam salat
Ramadhan/Romadhon/Romadlon (Ramadan): bulan kesembilan dalam tahun Hijrian; bulan puasa
rangking/rengking (ranking): peringkat; pangkat; tingkat
ranzel/rangsel (ransel): tas gendong besar dari kain terpal
rapih (rapi): enak dipandang mata; bersih dan teratur
rapot/raport (rapor): buku catatan hasil belajar
rasia/rajia (razia): penggerebekan pemerikasaan surat kendaraan
rasialist (rasialis): pengikut paham rasial; mempertahankan perbedaan warna kulit
rasionil (rasional): sesuai dengan akal
realisir (realisasi): proses menjadikan nyata
Reamur (Reaumur): termometer berskala 0 sampai 80 derajat
Rebo (Rabu): hari setelah Selasa sebelum Kamis
regim/rejim (rezim): pemerintah yang tengah berkuasa
rejeki/rezki/rizqi (rezeki): harta benda pemberian Tuhan
rekruit (rekrut): pemasukan anggota baru
relif (relief): lukisan pada candi; beda ketinggian permukaan bumi
renaisance/renaisan (renaisans): masa membangun kembali
reptil (reptilia): binatang melata
reservoir (reservoar): tempat simpan cadangan minyak atau air
resiko (risiko): kemungkinan munculnya bahaya; akibat yang mungkin muncul
respon (respons): tanggapan; jawaban
restauran/restaurant (restoran): rumah makan
resum (resume): ringkasan; rangkuman; ikhtisar
reumatik (rematik): nyeri otot dan sendi; penyakit tulang; encok
ridho (rida): Tuhan berkenan; rela; rahmat
riil (real): nyata; benar ada
rilai/rile (relai): menghubungkan dengan siaran radio atau televisi
ritme (ritma): tinggi rendahnya alunan suara; irama
rocker (roker): pemain musik rok
roh (ruh): badan halus; jiwa; atma
rohaniawan (ruhaniwan): orang yang mengutamakan keruhanian
romo (rama): ayah; bapak; gelar pendeta Katolik
romusha (romusa): pekerja paksa zaman Jepang
rong-rong (rongrong): merusak sedikir demi sedikti
ronsen (rontgen): foto dengan sinar-x
route (rute): arah jalan yang dilewati
rubah (ubah): menjadi bentuk lain; menjadi berbeda
ruku’ (rukuk): sikap membungkuk dalam gerakan salat

S
centigram (sentigram): seperseratus gram
centimeter (sentimeter): seperseratus meter
sa’i (sai): berjalan atau lari dalam rangkaian ibadah haji; berjalan atau lari dari Safa ke Marwah
sahadat (syahadat): pengakuan dan kesaksian iman Islam
sahid/syahit (syahid): orang mati karena membela agama
sahwat (syahwat): nafsu untuk senggama; berahi
saka guru/sokoguru/soko guru (sakaguru): tiang; penyangga utama
sakharin (sakarin): zat gula
saklar (sakelar): alat hubungan aliran listrik; penghidup dan pemati lampu listrik
salesma (selesma): penyakit hidung beringus; influenza; pilek
sambel (sambal): lauk penyedap dari cabai
sambrero/sopmberero (sombrero): topi lebar di bagian tepinya
sanawiyah/tsanawiyah (sanawiah): sekolah menengah tingkat pertama
sangkalan (sengkalan): penulisan tahun dengan kata-kata
sangsi (sanksi): hukuman
sanjak (sajak): persamaan bunyi pada puisi
sanksi (sangsi): ragu atau bimbang karena merasa kurang yakin
Sansekerta (Sanskerta): bahasa sastra Hindu Kuna
saos (saus): kuah penyedap makanan dari tomat
saparila (sarsaparila): minuman segar dari akar tumbuhan
saplemen/suplement (suplemen): tambahan untuk menggenapi
sapta pesona (saptapesona): tujuh pesona yang ditawarkan kepada wisatawan asing
sariawan (seriawan): penyakit mulut akibat kekurangan vitamin C
sate (satai): potongan daging yang dipanggang dan dibumbui
satire (satir): sindiran atau ejekan secara halus; gaya bahasa sindiran
sebab-musabab (musabab): sebab-sebab; hal-hal yang menyebabkan
sedia kala (sediakala): seperti yang sudah-sudah; yang semula
seign/sign/sen (sein): tanda; isyarat; lambang; simbol
sekedar (sekadar): alakadarnya
sekering (sekring): alat pengatur arus listrik
sekolastik/skholastik (skolastik): filsafat pada abad pertengahan
sekor/score (skore): jumlah angka kemenangan; hasil pertandingan
sekores/sekors/skorsing (skors): pemecatan untuk waktu sementara
seksama (saksama): teliti dan cermat; tepat benar
seksuil (seksual): berkenaan dengan jenis kelamin
sekta (sekte): kelompok yang sepaham kepercayaannya; mazhab
sekterian (sektarian): penganut suatu sekte; sempalan
sekuadron (eskadron): sejumlah kapal terbang militer dalam satu kesatuan
sekuler (sekular): bersifat bukan keagamaan
selinder/slinder (silinder): selongsong; tabung
selulose (selulosa): zat dinding sel tumbuhan
semanda (semenda): ikatan keluarga karena pernikahan
sembrono (sembrana): perbuatan yang dikerjakan sambil bermain-main; gegabah
semedi/samadi (semadi): pemusatan pikiran untuk mencari wangsit
senggama (sanggama): hubungan badan; hubungan kelamin; koitus; setubuh
senikdok (sinekdoke): gaya bahasa dengan menyebut sebagian untuk seluruhnya
senopati (senapati): panglima perang; pemimpin pasukan tempur
sense/sinse (sengse): tabib Cina
sentausa (sentosa): terbebas dari bencana hingga tenteram dan sejahtera
sentimentil (sentimental): sifat menyinggung perasaan
sentra/central (sentral): di tengah-tengah; pusat
sepakbor/spakbor/spakbort (sepatbor): tutup roda penahan kotoran
sepanduk (spanduk): kain rentang berisi tulisan
sepesial/special (spesial): khusus; istimewa
sepesies/species (spesies): jenis atau macam hewan
sepionase (spionase): kegiatan mata-mata
sepirtus/sepiritus/spritus (spiritus): cairan beralkohol mudah menguap
sepon/spon (spons): busa karet
seprei (seprai): kain alas kasur
serba neka/serba aneka (serbaneka): beraneka macam; bermacam-macam; serba serbi
seruling (suling): alat musik tiup dari bambu atau plastik
seruni (serunai): alat musik tiup dari kayu
service (servis): jasa layanan; pelayanan
seterika (setrika): logam penghapus pakaian
setriker/stricker (striker): penyerang dalam permainan sepakbola
sex (seks): jenis kelamin
seyogyanya (seyogianya): sepantasnya; selayaknya
shaf (saf): lapis; deret; jajar
shalat/sholat (salat): sembahyangnya orang Islam
shampo (sampo): pencuci rambut
she/syeikh (syekh): sebutan keturunan Arab; alim ulama; kiai
shogun (syogun): kepala negara Jepang sebelum abad XX
sie (seksi): bagian dari organisasi
silahkan (silakan): minta dengan hormat; sudilah kiranya
silaturrahmi/silaturohmi (silaturahmi): pertemuan untuk mempercepat persaudaraan
simple (simpel): tidak rumit atau berbelit-belit; sederhana
sinagog (sinagoge): rumah peribadatan orang Yahudi
sindrome (sindrom): gabungan gejala penyakit
sinkope (sinkop): hilangnya satu suku kata atau fonem di tengah kata; misal baharu menjadi baru; bahagian menjadi bagian
sintesa/sintese (sintesis): pembentukan zat baru
sintesis (sintetis): perihal sintesis; tiruan
sipilis/siphilis (sifilis): penyakit kelamin
sipoa/sempoa (swipoa): alat hitung model Cina; dekak-dekak
sirik (syirik): mendua atau menyekutukan Tuhan
sirine (sirene): bunyi mendengung sebagai tanda bahaya
sistim (sistem): metode; cara; ala; model
siter/sitar (ziter): gitar berdawai banyak dan digesek
Siwa (Syiwa): sebutan dewa perusak dunia
skop (sekop): alat aduk tanah atau pasir
sky (ski): olahraga di atas salju dengan papan
slendro (selendro): irama gamelan Jawa
sleng/slank/slenk (slang): ragam bahasa di kalangan remaja
smash (smes): pukulan keras dan menolak ke arah daerah lapangan lawan
sobat (sahabat): handaitulan; kawan; teman
sodakoh/sodaqoh (sedekah): pemberian kepada fakir miskin; selamatan
softball/sofball (sofbal): permainan olahraga dengan bola
sokhib (sahib): yang memiliki; empunya; teman
solenoid (solenoide): kawat gulung batangan sulur
sorban (serban): kain ikat kepala model Arab
sosio drama (sosiodrama): drama masalah sosial
souvenir (suvenir): kenang-kenangan; cenderamata; tanda mata
spagheti/spagetti (spageti): makanan utama orang Italia
speedboat/speedbot (spitbot): kapal motor laju cepat
spink/sping/spinx (sfing): patung berkepala manusia, tetapi berbadan singa di Mesir
spirituil (spiritual): keruhanian; kejiwaan
sprint (sprin): lomba lari cepat jarak dekat
spur/spor (sepur): kereta api
sreg (srek): pas dan cocok; enak di hati
srigala (serigala): anjing kuning kelabu; anjing hutan
stagen/tagen (setagen): kain pengikat perut wanita
stand (stan): ruang pamer jual
standard/standart (standar): ukuran yang dibakukan; alat topang sepeda atau motor
standarisasi (standardisasi): usaha membuat standar; pembakuan
stansa/setansa (stanza): puisi delapan larik
stater (starter): alat penghidup mesin motor
stereotipe (stereotip): bentuk tetap tidak berubah; klise
sticker (stiker): tulisan pada plastik untuk ditempel
stip (setip): karet peghapus tulisan
stir (setir): kemudi kendaraan
stock (stok): persediaan barang
stress (stres): tekanan jiwa
strip (setrip): tanda pangkat pada bahu
strok (stroke): serangan otak dibarengi kelumpuhan
sub bab (subbab): anak bab; di bawab
sub bagian (subbagian): di bawah bagian
sub kontraktor (subkontraktor): kontraktor berskala kecil
sub tropik (subtropik): iklim antara tropik panas dan sedang
sub unit (subunit): bagian di bawah unit
subsidair (subsider): hukum kurungan akibat tidak membayar denda
subtansi (substansi): hakikat; yang sebenar-benarnya; inti
subtitusi (substitusi): pengganti
subyek (subjek): pokok pembicaraan; pelaku
sudet (sodet): robek atau bedah agar airnya mengalir
suhada (syuhada): mati sebab membela agama; syahid
suiter (sweter): baju lengan panjang dari kain tebal
suka cita (sukacita): bergembiraria; suka hati; sukaria
sundel (sundal): perempuan nakal; perempuan jalang
sunnah (sunah): hadis; perbuatan; kebiasaan
sup/soup (sop): sayur berkuah dengan kaldu
superman (supermen): manusia super; manusia istimewa atau luar biasa
supermasi (supremasi): kemampuan untuk menguasai
supir (sopir): pengemudi kendaraan roda empat
sur (syur): sangat memikat hati
surat (surah): bagian dalam Alquran
surve/survay (survei): peninjauan lapangan untuk penelitian
susastera (susastra): karya sastra adiluhung; seni sastra
sutra (sutera): kain dari benang sutera
swa sembada (swasembada): pemenuhan barang-barang kebutuhan sendiri
syafa’at (syafaat): pertolongan dari Nabi Muhammad
syah (sah): sesuai dengan hukum; tidak batal
syahdu (sahdu): menjadikan perasaan tenang; khidmat
syaraf (saraf): urat saraf; tali rasa
syareat (syariat): hukum Islam yang harus dikerjakan dengan praktik
syarekat (syarikat): perhimpunan; perkumpulan; rombongan
syetan/syaiton (setan): ruh jahat penggoda manusia
syiar/syi’ar (siar): penyebaran atau pemberitahuan kepada khalayak ramai
syrup/sirop (sirup): cairan pemanis; air gula beresens
syubat/syubkhat (syubhat): kurang jelas dasar hukumnya
syurga/sorga (surga): taman firdaus; tempat kebahagiaan yang abadi bagi ruh

T
ta’ala (taala): magatinggi; kata yang dipakai di belakang Allah
ta’zim/takjim (takzim): sangat sopan dan hormat; bakti
tabligh (tablig): penyiaran dan penyebaran ajaran Islam; pengajian
tahiyat (tahiat): salah satu doa waktu salat
tahta (takhta): tempat raja duduk; kursi raja; singgasana
talek (talk): bedak halus untuk kulit tubuh
tamzil (tamsil): misal; ibarat; umpama; ajaran cerita lama
tangker (tanker): kapal angkutan minyak
tape (tapai): penganan yang pemasakannya dengan ragi
tapelak (taplak): kain alas; tutup meja
tapi (tetapi): kata pertentangan dalam kalimat
tarkim/tarhim (tarkhim): seruan pemberitahuan di waktu subuh
taruna (teruna): usia muda; pemuda; bujangan; murid bakal perwira
tataniaga (tata niaga): pengaturan sistem perdagangan
tatto (tato): lukisan pada anggota tubuh
taubat (tobat): menyesal atas kesalahannya dengan minta ampun
tauco (taoco): lauk dari kedelai
taulada/toladan (teladan): layak atau patut ditiru; contoh yang baik
tawakkal (tawakal): berserah diri kepada Allah
taxi (taksi): mobil sedan angkutan umum
team (tim): kelompok; regu
tehnik (teknik): metode; cara kerja
tekat (tekad): kemauan keras dengan kebulatan hati
teke/tekek (tokek): cecak besar
telor (telur): benda yang berisi zat hidup calon makhluk
temenggung (tumenggung): pegawai tinggi di bawah bendahara; bupati tempo dulu
temu giring (temugiring): umbi yang dipakai untuk obat
tentram (tenteram): keadaan aman dan damai; tenang dan bahagia
teoritis (teoretis): berdasarkan teori; menurut teori
tepa selira/ tepo seliro (tepaselira): bisa merasakan apa yang dirasakan orang lain; toleransi
terimakasih (terima kasih): ucapan tanda bersyukur
terlanjur (telanjur): terlewat dari batas yang ditetapkan; kadung
terlantar (telantar): tidak terawat dengan baik; terbengkalai
terlentang (telentang): keadaan posisi berbaring
terong (terung): tumbuhan yang buahnya untuk sayur
terpedo (torpedo): senjata ledak luncur dari kapal
tersina (terzina): puisi tiga larik
test (tes): ujian untuk menjajagi kemampuan; percoban
thawaf (tawaf): berjalan tujuh kali mengitari kakbah sewaktu haji
theater (teater): gedung pertunjukan film
theologi (teologi): ilmu tentang ketuhanan
thesis (tesis): tulisan ilmiah untuk meraih gelar sarjana utama; pertanyaan berdasarkan argumentasi
thoriqoh/thoriqot (tarikat): cara hidup tawakal; kumpulan penuntut ilmu tasauf; jalan menuju kebenaran
ticket (tiket): karcis tanda naik kendaraan atau menonton pertunjukan
timun/ketimun (mentimun): buah lalap segar
tips (tip): persenan; upah; bonus
toa pekong/tepekong (toapekong): patung dewa yang dipuja di kelenteng
toge/tauge (taoge): kecambah kacang hijau
tolerir (toleransi): penyimpangan yang masih wajar; sikap toleransi
tonel (tonil): sandiwara; pentas drama
top hit (tophit): pada puncak kesuksesan
topaz (topas): batu permata aneka warna
toples (stoples): tabung plastik penyimpan roti
tour (tur): perjalanan wisata; pelancong; piknik
touris (turis): wisatawan; pelancong
tournamen/turnament (turnamen): pertandingan olahraga memperebutkan hadiah
tradisionil (tradisional): berpegang pada tradisi
trakhom/trachome (trakom): penyakit mata akibat serangan virus
trans Jakarta (trans-Jakarta): melintasi kota Jakarta
trapo (trafo): alat ukur tegangan listrik; transformator
trenggiling (tenggiling): binatang bersisik menyusui yang sering menggelinding
trengginas (terengginas): lincah, terampil, dan cekatan
tribun (tribune): tempat duduk tinggi panggung bicara
trilyun (triliun): dua belas nol di belakang angka
trinale (trienale): kegiatan tiga tahunan; tiga tahunan
tripang (teripang): binatang laut berduri warna hitam
triplek/triplex (tripleks): papan kayu berlapis-lapis
tritis (teritis): sekeliling rumah tempat air hujan jatuh dari genting
trofosfir (trofosfer): lapisan terbawah permukaan bumi
tromol (teromol): peti dari kaleng untuk merek; rem
trophi/tropi (trofi): hadiah untuk pemenang atau juara pertandingan
trotoir (trotoar): tepi jalan raya untuk pejalan kaki
trubus (terubus): tumbuh tunasnya; tunas
truwelu/teruwelu (terwelu): binatang pemakan rumput sejenis kucing; kelinci
tuna netra (tunanetra): tidak dapat melihat; buta
tungro (tungra): wereng hijau hama tanaman padi
turbo jet (turbojet): mesin pesawat udara berturbin jet
tut (tuts): tombol mesin tik; potret; piano; organ; tombol
type (tipe): model; corak; bentuk

U
ujian ulangan (ujian ulang): ujian untuk memperbaiki nilai
ukhrowi (ukhrawi): berhubungan atau bersifat akhirat; keakhiratan
ultra modern (ultramodern): luar biasa modernnya; modern sekali; mutakhir
urin (urine): air kencing; air seni
ustadz (ustaz): guru agama Islam; mubalig

V
valentin (valentine): hari kasih sayang
vampire (vampir): kelelawar besar penghisap darah; makhluk halus yang menakutkan
vanilli/panili (vanili): biji pengharum makanan
varices (varises): pelebaran pembuluh darah balik
varitas (varietas): tanaman berbeda dari lain kelompok
vaskuler (vaskular): perihal pembuluh darah
vegetarian (vegetaris): manusia yang berpantang makan daging
vermaks (vermak): pengubahan potongan atau model pakaian
vignet (vinyet): hiasan bentuk tumbuhan rambat
villa (vila): rumah asri di pegunungan



Y
yudikatif (judikatif): berkaitan dengan yang mengadili perkara; fungsi dan pelaksanaan keadilan
yudisial (judisial): berhubungan dengan pengadilan
yudo (judo): olahraga beladiri
yunior (junior): muda
yurisdiksi (jurisdiksi): berkaitan dengan hukum

Z
zahir/zohir/dhohir (lahir): keluar dari kandungannya; yang kelihatan dari luar
zam-zam (zamzam): mata air di Mekah
zig-zag (zigzag): berliku-liku; berkelok-kelok; berbelit-belit
zinah/jina (zina): persetubuhan yang tidak sah menurut hukum; senggama pria dan wanita yang bukan suami istri
zona (zone): wilayah yang dibatasi; daerah; kawasan
zygot/zigote (zigot): perkembangan lanjut pertemuan sel jantan dan betina; sebelum menjadi embrio